Scroll untuk baca artikel
Banda Aceh

BPDP dan BPI Dorong Produktivitas Sawit Subulussalam Minimal 24 Ton/Ha

40
×

BPDP dan BPI Dorong Produktivitas Sawit Subulussalam Minimal 24 Ton/Ha

Sebarkan artikel ini
BPDP dan BPI mendorong peningkatan produktivitas petani sawit Subulussalam melalui pelatihan budidaya dan pengelolaan kebun berkelanjutan.

Pewarta Aceh | BANDA ACEH – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Best Planter Indonesia (BPI) mendorong peningkatan produktivitas kelapa sawit petani swadaya di Kota Subulussalam, Aceh. Melalui program Pelatihan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMPKS), kedua lembaga menargetkan hasil panen meningkat dari rata-rata 12 ton menjadi minimal 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun.

Program ini melibatkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, serta Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kota Subulussalam. BPI bertindak sebagai mitra pelaksana pelatihan. Melalui kolaborasi tersebut, penyelenggara ingin memperkuat kemampuan teknis petani dalam mengelola kebun secara produktif.

PENYALUR PERLENGKAPAN OUTBOUND & ADVENTURE EQUIPMENT

Produktivitas Kebun Menjadi Perhatian

Data yang disampaikan dalam materi program menunjukkan produktivitas sawit petani Subulussalam rata-rata mencapai 12 ton TBS per hektare per tahun. Angka tersebut masih berada di bawah potensi produksi yang menjadi acuan dalam program peningkatan produktivitas.

Karena itu, pelatihan menjadi salah satu upaya untuk memperbaiki praktik budidaya di tingkat kebun. Petani perlu memahami pemilihan benih, pemeliharaan tanaman, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit.

Baca Juga: 60 Petani Sawit Subulussalam Dilatih Cegah Ganoderma di Banda Aceh

Keterbatasan pengetahuan teknis dapat memengaruhi hasil panen dan efisiensi biaya. Sebagian petani juga menghadapi tantangan dalam memperoleh benih bersertifikat dan menerapkan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman. Dengan demikian, pendampingan teknis diharapkan membantu petani mengatasi berbagai kendala tersebut.

Lima Materi Utama Pelatihan Sawit

Selama enam hari, peserta mengikuti pembelajaran teori dan praktik lapangan bersama praktisi serta tenaga ahli BPI. Materi pelatihan mengacu pada prinsip Best Management Practices (BMP), yaitu praktik pengelolaan kebun yang baik. Pendekatan ini menekankan ketepatan teknik budidaya, efisiensi biaya, dan pemeliharaan tanaman secara berkelanjutan.

Pertama, pemilihan bibit unggul dan bersertifikat. Peserta mempelajari pentingnya menggunakan benih dari sumber resmi yang terjamin mutunya. Sebab, benih yang tidak jelas asal-usulnya dapat membatasi potensi produksi meskipun petani memberikan perawatan intensif.

Kedua, pengaturan populasi tanaman. Petani mempelajari jarak tanam dan kerapatan pohon yang sesuai dengan kondisi lahan. Selain itu, peserta memahami pentingnya mengganti tanaman mati agar populasi produktif tetap terjaga.

Ketiga, pemeliharaan kebun secara teratur. Materi mencakup penyiangan piringan, pemangkasan pelepah, dan sanitasi kebun. Melalui perawatan yang tepat, petani dapat membantu tanaman memperoleh cahaya matahari dan mendukung pertumbuhan yang optimal.

Keempat, pemupukan berimbang dan tepat sasaran. Peserta mempelajari prinsip 5T, yakni tepat jenis, dosis, waktu, tempat, dan cara. Penerapan prinsip tersebut membantu petani menyesuaikan pemberian pupuk dengan kebutuhan tanaman sekaligus mengendalikan biaya operasional.

Kelima, pengendalian organisme pengganggu tanaman. Petani mempelajari pengenalan gejala serangan ulat pemakan daun kelapa sawit, kumbang tanduk, dan penyakit busuk pangkal batang akibat Ganoderma. Dengan mengenali gejala lebih awal, petani dapat menentukan langkah pengendalian yang sesuai.

Target Produksi untuk Meningkatkan Pendapatan Petani

Pelatihan SDMPKS tidak hanya mengandalkan pembelajaran di kelas. Peserta juga menjalani praktik lapangan untuk memahami penerapan teknik budidaya secara langsung. Melalui metode tersebut, penyelenggara berharap petani dapat menghubungkan materi pelatihan dengan kondisi kebun masing-masing.

BPDP dan BPI menargetkan produktivitas petani Subulussalam mencapai minimal 24 ton TBS per hektare per tahun. Target itu berarti peningkatan dua kali lipat dibandingkan rata-rata 12 ton yang tercantum dalam materi program.

Baca Juga: Pelatihan SDM Perkebunan 2026 Ditutup, BPDP dan BPI Dorong Produktivitas Sawit

Namun, pencapaian target tersebut membutuhkan penerapan teknik budidaya secara konsisten. Kualitas benih, kondisi lahan, pemeliharaan tanaman, ketersediaan pupuk, dan pengendalian hama turut memengaruhi hasil panen. Oleh sebab itu, hasil pelatihan perlu diikuti penerapan di kebun serta evaluasi perkembangan produktivitas.

Jika petani menerapkan pengetahuan tersebut secara berkelanjutan, peningkatan hasil panen berpotensi memperbaiki pendapatan keluarga. Pada saat yang sama, pengelolaan kebun yang lebih efisien dapat membantu petani mengoptimalkan penggunaan sarana produksi.

Program ini menjadi salah satu upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia perkebunan di Aceh. Keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan petani menerapkan materi pelatihan dan mempertahankan praktik pengelolaan kebun yang baik.