Pewarta Aceh | BANDA ACEH – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Best Planter Indonesia (BPI) melatih 60 petani sawit asal Kota Subulussalam. Pelatihan di Hotel Mekkah, Banda Aceh, itu membahas teknis budidaya, termasuk pengendalian Ganoderma. Setelah sesi kelas, peserta berkunjung ke Kebun Batee Puteh, Kabupaten Aceh Jaya. Kebun itu milik PT Agro Sinergi Nusantara (ASN).
Penyelenggara menggelar pelatihan ini sebagai langkah antisipasi. Ganoderma termasuk penyakit utama dan paling mematikan pada sawit. Sampai sekarang, belum ada obat yang mampu menyembuhkannya.
Ancaman Serius bagi Kebun Sawit
Jamur Ganoderma boninense menyebabkan penyakit busuk pangkal batang (Basal Stem Rot). Jamur ini merusak jaringan pembuluh tanaman. Akibatnya, batang membusuk, sedangkan daun menguning dan terkulai. Akhirnya, pohon tumbang dan mati.
Penyakit ini mengancam keberlanjutan perkebunan sawit di Indonesia. Tanaman yang sudah terinfeksi tidak bisa pulih. Karena itu, petani perlu mencegah serangan sejak dini. Dengan demikian, pengelolaan kesehatan lahan secara terpadu menjadi strategi terbaik.
Belajar Mengenali Gejala di Kelas dan Kebun
Pada sesi teori di Hotel Mekkah, narasumber mengajarkan peserta mengenali gejala awal Ganoderma. Petani belajar membaca tanda fisik, yaitu daun tombak yang menumpuk dan tidak membuka. Warna daun memucat, dan tubuh buah jamur (fruiting body) muncul di pangkal batang. Bentuknya seperti kipas atau mangkuk yang keras.
Baca Juga: Pelatihan SDM Perkebunan 2026 Ditutup, BPDP dan BPI Dorong Produktivitas Sawit
Setelah itu, peserta berangkat ke Kebun Batee Puteh milik PT ASN di Aceh Jaya. Di sana, petani melihat langsung kondisi kebun dan mengamati bentuk fisik jamur Ganoderma. Mereka juga mempelajari praktik pengelolaan kebun yang perusahaan terapkan agar penyakit tidak menyebar.
Dua Pilar Pencegahan Terpadu
Narasumber BPI menekankan dua pilar utama pencegahan Ganoderma. Pilar pertama adalah penyehatan tanah secara berkala. Tanah yang sehat dan kaya bahan organik menekan perkembangan patogen. Karena itu, petani belajar memakai bahan dan pupuk organik agar mikroorganisme menguntungkan bertambah.
Pilar kedua adalah aplikasi musuh alami (biological control). Agens hayati menjadi benteng pertahanan yang ampuh melawan Ganoderma. Peserta berlatih memakai jamur antagonis, misalnya Trichoderma spp. dan Mikoriza. Agens ini berkompetisi dengan patogen, memparasitnya, dan memperkuat perakaran sehingga sawit lebih tahan.
Harapan bagi Petani Swadaya
BPDP dan BPI berharap petani Subulussalam menjadi pelopor dalam menjaga kesehatan lahan. Mereka juga ingin petani menerapkan budidaya berkelanjutan. Dengan begitu, mereka berharap kesadaran akan pencegahan dini menekan angka kematian sawit petani swadaya.
“Ganoderma memang belum ada obatnya, tetapi bisa kita cegah agar tanaman kelapa sawit kita tidak terserang,” kata narasumber pelatihan. Kini, para petani siap menerapkan ilmu itu supaya produktivitas kebun tetap terjaga.[Awang]















