Scroll untuk baca artikel
Banda AcehKesehatanUMKM

BBPOM Aceh Uji Keamanan Pangan di Warung Kopi, Tiga Sampel Diduga Berboraks

30
×

BBPOM Aceh Uji Keamanan Pangan di Warung Kopi, Tiga Sampel Diduga Berboraks

Sebarkan artikel ini
Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, berdialog dengan pemilik warung kopi saat sidak keamanan pangan di Banda Aceh.

Pewarta Aceh | Banda Aceh – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Aceh (BBPOM Aceh) menggelar pengawasan pangan bertajuk Sanger Ureueng Aceh pada Senin, 27 Juli 2026. Tim BBPOM menyasar lima warung kopi di Kota Banda Aceh untuk memeriksa keamanan pangan bagi pengunjung. Kegiatan ini melibatkan anggota Satuan Karya Pramuka POM (SAKA POM) yang bekerja lewat tiga krida sekaligus.

Petugas mengambil sepuluh sampel pangan dari warung-warung tersebut. Mereka kemudian menjalankan uji cepat guna mendeteksi kandungan bahan berbahaya. Hasilnya cukup mengejutkan: tiga sampel kerupuk diduga mengandung boraks.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

Sampel Kerupuk Dibawa ke Laboratorium

Petugas segera membawa ketiga sampel bermasalah itu ke laboratorium BBPOM Aceh. Tim laboratorium akan menjalankan uji konfirmasi untuk memastikan kandungan boraks tersebut. Hasil ini nantinya menentukan langkah hukum sesuai aturan yang berlaku.

Banyak pelaku usaha nakal masih menyalahgunakan boraks dalam pengolahan pangan. Bahkan, konsumsi bahan ini secara terus-menerus dapat memicu gangguan kesehatan serius. Karena itu, BBPOM Aceh menganggap temuan ini perlu mendapat tindak lanjut serius.

Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, memimpin langsung kegiatan pengawasan tersebut. Ia berdialog dengan sejumlah pemilik warung kopi yang menjadi sasaran pemeriksaan. Meski demikian, Riyanto menegaskan pengawasan ini bukan semata mencari kesalahan pelaku usaha.

“Warung kopi merupakan identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Aceh. Karena itu, keamanan pangan yang disajikan harus menjadi prioritas bersama,” ujar Riyanto, Kepala BBPOM Aceh.

Ia menambahkan bahwa BBPOM hadir untuk mendampingi pelaku usaha, bukan menjatuhkan sanksi semata. Pendampingan ini membuat konsumen makin merasa aman menikmati kopi khas Tanah Rencong. Warung kopi Aceh pun akan makin mendapat kepercayaan sebagai destinasi kuliner ramah wisatawan.

Edukasi Bahan Pangan Aman untuk Pelaku Usaha

Riyanto mengingatkan bahaya boraks apabila masyarakat mengonsumsinya secara terus-menerus. Ia meminta pelaku usaha selalu memilih bahan baku yang memenuhi ketentuan resmi. Selain itu, ia mendorong pedagang memastikan seluruh produk berasal dari sumber legal dan aman.

Anggota SAKA POM turut mengedukasi pemilik warung selama kegiatan berlangsung. Mereka mengajarkan cara menjaga kebersihan saat mengolah dan menyajikan makanan. Tak hanya itu, petugas juga memperkenalkan metode Cek KLIK—memeriksa kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa produk.

Para pemilik warung menyambut antusias sesi pembinaan ini. Bahkan, mereka aktif berdiskusi dan menanyakan seputar bahan tambahan pangan yang aman digunakan. Interaksi semacam ini memperkuat pemahaman pelaku usaha tentang standar pangan yang layak jual.

Program Sanger Ureueng Aceh berupaya menumbuhkan budaya keamanan pangan berbasis komunitas. Ke depan, BBPOM Aceh berencana memperluas pengawasan serupa ke warung kopi lain di Banda Aceh. Dengan begitu, kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat bisa mewujudkan predikat Kabupaten/Kota Pangan Aman.