Oleh: Riazul Iqbal
Fenomena penyebaran HIV/AIDS di Tanah Rencong kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan mencatat ratusan kasus baru teridentifikasi dalam kurun waktu singkat. Sebagian besar penderitanya merupakan usia produktif. Bahkan, penyebaran ini mulai merambah kelompok remaja.
Ketika angka statistik terus melonjak, masyarakat tidak boleh tinggal diam. Ada persoalan mendasar dalam struktur keluarga yang memerlukan perhatian serius. Oleh karena itu, kita harus segera mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan generasi mendatang.
Dampak Krisis Figur Ayah di Rumah
Perilaku seks menyimpang menjadi pemicu utama di balik lonjakan kasus ini. Dari perspektif psikologi, dinamika pengasuhan di rumah membentuk identitas seksual anak. Fenomena minimnya peran ayah (fatherless) kerap menyisakan ruang kosong pada anak. Selain itu, pengalaman trauma masa kecil juga ikut memperburuk keadaan.
Anak-anak membutuhkan sosok teladan laki-laki yang tegas dan penyayang. Jika ayah absen, anak akan rentan mencari figur pengganti di luar rumah. Sayangnya, lingkungan luar tidak selalu memberikan dampak yang positif.
Invasi Budaya dan Konten Media Modern
Di sisi lain, media populer terus mengikis norma sosial di tengah masyarakat. Berbagai konten hiburan kini menyisipkan narasi hubungan sesama jenis secara terbuka. Bahkan, industri film mulai menyasar tayangan konsumsi anak-anak.
Jika pengawasan orang tua melonggar, doktrinasi budaya luar ini akan merusak moral remaja. Apalagi, komunitas terorganisir juga bergerak secara kasatmata. Akibatnya, anak-anak makin sulit membedakan nilai yang benar dan yang menyimpang dari syariat.
Mengembalikan Peran Sentral Keluarga
Oleh sebab itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum di ruang publik. Benteng terkuat untuk membendung ancaman ini harus bermula dari rumah. Para ayah harus kembali mengambil peran sentral mereka secara utuh. Ayah wajib hadir secara fisik dan emosional untuk mendampingi buah hati.
Selain itu, orang tua perlu memperketat filter terhadap tontonan anak. Tanamkan pemahaman agama yang kokoh sejak dini. Mengajarkan batasan aurat dan menjaga kehormatan diri juga menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.
Menjaga Benteng Syariat di Tanah Rencong
Aceh memiliki landasan syariat Islam dan nilai adat yang sangat kuat. Perangkat hukum ini ada untuk membentengi masyarakat dari kerusakan moral. Namun, aturan hukum akan menjadi sia-sia jika ketahanan keluarga di rumah rapuh.
Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat harus bersatu padu. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan unit keluarga wajib meningkatkan kewaspadaan. Hanya dengan ketahanan keluarga yang tangguh, kita dapat menyelamatkan generasi Aceh dari krisis moral dan kesehatan.
Riazul Iqbal, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aktif dalam kegiatan Literasi.















