Scroll untuk baca artikel
Banda AcehPendidikan

Prof. Teuku Reza Ferasyi Jadi Pemateri Webinar Internasional WOAH

63
×

Prof. Teuku Reza Ferasyi Jadi Pemateri Webinar Internasional WOAH

Sebarkan artikel ini
Kepala Pusat Riset CENTROVETS-OHCC USK, Prof. Teuku Reza Ferasyi, menyampaikan materi dalam webinar internasional WOAH, Kamis (29/10/2026).

Pewarta Aceh | BANDA ACEH — Prof. drh. Teuku Reza Ferasyi, MSc., PhD., dari Universitas Syiah Kuala (USK) menjadi pemateri webinar internasional Badan Kesehatan Hewan Dunia (WOAH). Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 29 Oktober 2026, dengan fokus pengawasan penyakit hewan di kawasan Asia-Pasifik. Melalui forum tersebut, ia membagikan pengalaman Indonesia dalam memperkuat kapasitas tenaga kesehatan hewan.

Webinar itu mengangkat tema Epidemic Intelligence Webinar: Event-Based Surveillance for Animal Health in the Asia-Pacific. WOAH Regional Representation for Asia and the Pacific (RRAP) menyelenggarakan kegiatan ini dari Tokyo, Jepang. Pelaksanaannya juga berkoordinasi dengan kantor pusat WOAH di Paris, Prancis.

PENYALUR PERLENGKAPAN OUTBOUND & ADVENTURE EQUIPMENT

Prof. Teuku Reza menjabat Kepala Pusat Riset Center for Tropical Veterinary Studies–One Health Collaboration Center (CENTROVETS-OHCC) USK. Dalam webinar seri ketiga tahun ini, ia membawakan materi berjudul Bridging Academia and Communities: Strengthening One Health Workforce Capacity for Animal Disease Surveillance in Indonesia.

Materi tersebut membahas penguatan kemampuan mahasiswa dan petugas kesehatan hewan di Indonesia. Upaya ini melibatkan dukungan Indonesia One Health University Network (INDOHUN) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI) selama lima tahun terakhir.

Prof. Reza Bahas Penguatan Kapasitas Tenaga Kesehatan Hewan

Pendekatan One Health menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Karena itu, kerja sama lintas sektor menjadi penting untuk mendukung deteksi dini serta pengawasan penyakit hewan.

Dalam presentasinya, Prof. Teuku Reza menyoroti peran perguruan tinggi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, akademisi dapat berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat keterampilan petugas di lapangan.

Selain membahas pengalaman Indonesia, materi itu menekankan pentingnya hubungan antara dunia akademik dan komunitas. Dengan pendekatan ini, kegiatan pengawasan penyakit dapat memperoleh dukungan dari berbagai pihak.

Baca Juga: KKP Bekali Tim Penilai KNMP 2027, 231 Peserta Ikuti Pelatihan di Aceh

Prof. Reza menyambut undangan tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kepakaran USK di forum internasional. Ia juga berharap partisipasi itu memperkuat pengakuan terhadap CENTROVETS-OHCC dan universitasnya.

“Undangan menjadi pemateri pada webinar yang diselenggarakan Badan Kesehatan Hewan Dunia merupakan sebuah bentuk pengakuan atas kepakaran sumber daya kedokteran hewan yang ada di USK. Semoga kesempatan baik ini dapat berkontribusi bagi penguatan rekognisi Pusat Riset CENTROVETS, dan tentu saja USK di tingkat global. Kita semua berharap ke depan semakin banyak dosen di USK yang memperoleh kesempatan berbagi kepakaran di lembaga internasional,” kata Prof. Reza.

Berbagi Forum dengan Pakar Malaysia dan Prancis

Dalam webinar seri ketiga tersebut, Prof. Teuku Reza tampil bersama dua pakar internasional. Keduanya membawa pengalaman dari bidang pengendalian penyakit hewan dan riset lingkungan.

Pembicara pertama ialah Dr. Khairina Akmar binti Khalid dari Disease Control & Veterinary Biosecurity Division, Department of Veterinary Services, Malaysia. Sementara itu, Dr. Mathieu Roche mewakili French Agricultural Research Centre for International Development (CIRAD).

Dr. Mathieu Roche bekerja dalam unit riset gabungan TETIS di Montpellier, Prancis. Unit tersebut berfokus pada wilayah, lingkungan, penginderaan jauh, dan informasi spasial.

Webinar ini juga melibatkan delegasi WOAH, focal point, dan pemangku kepentingan dari Asia, Afrika, serta Eropa. Dengan demikian, forum tersebut mempertemukan berbagai pihak untuk bertukar pengetahuan mengenai pengawasan penyakit hewan.

Partisipasi Prof. Teuku Reza membawa pengalaman Indonesia tentang kolaborasi akademisi dan masyarakat ke tingkat internasional. Di sisi lain, keterlibatan tersebut membuka ruang pertukaran pengetahuan dengan para pakar dari negara lain.

Ke depan, kerja sama riset dan penguatan kapasitas sumber daya manusia tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman penyakit hewan. Oleh sebab itu, pendekatan One Health memerlukan dukungan perguruan tinggi, tenaga kesehatan, masyarakat, dan lembaga terkait.