Pewarta Aceh | BANDA ACEH – Pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit 2026 gelombang kelima mendorong pekebun di Aceh meningkatkan produktivitas kebun. Program ini menekankan teknik budidaya yang baik, penguatan keterampilan, dan pengelolaan perkebunan berkelanjutan.
Pelatihan ini mencakup kelas 24 dan kelas 25 di Provinsi Aceh. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pelatihan SDM perkebunan kelapa sawit tahun 2026. Secara nasional, program ini menargetkan pelaksanaan 55 kelas.
Direktur Operasional Best Planter Indonesia (BPI), Friyandito, S.P., M.M., menjelaskan materi pelatihan mencakup teknik budidaya kelapa sawit secara menyeluruh. Peserta juga mempelajari pemetaan tingkat produktivitas kebun.
Menurut Friyandito, pekebun perlu memahami kondisi kebun sebelum menentukan langkah perbaikan. Salah satu sasaran yang dibahas dalam pelatihan ialah potensi produksi hingga 36 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun.
Pekebun perlu menerapkan teknik budidaya yang tepat untuk mengejar potensi tersebut. Langkahnya meliputi pemilihan benih unggul, pemupukan sesuai kebutuhan, pemeliharaan tanaman, dan pengaturan waktu panen.
Pelatihan Perkuat Pengetahuan Pekebun
Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kota Subulussalam, Herwinsyah Putra, S.P., mengapresiasi dukungan berbagai pihak terhadap pelatihan ini.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai penyandang dana. Ia juga mengapresiasi Direktorat Jenderal Perkebunan yang menerbitkan rekomendasi teknis serta BPI sebagai penyelenggara.
Baca Juga: Residivis Curanmor Ditangkap Jatanras Polresta Banda Aceh, Curi HP Mahasiswi
Herwinsyah menilai pelatihan ini penting bagi pekebun yang telah menjalankan usaha kelapa sawit. Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat memperluas pengetahuan dan mempelajari standar budidaya yang lebih baik.
Ia mengingatkan bahwa pengelolaan kebun sawit tidak hanya berkaitan dengan penanaman dan pemilihan bibit. Pekebun juga perlu memahami regulasi serta kebijakan penggunaan lahan.
Herwinsyah menyoroti persoalan kebun sawit di kawasan rawa Singkil yang termasuk wilayah konservasi. Ia berharap pekebun memahami ketentuan yang berlaku sebelum mengembangkan usaha di suatu kawasan.
Ia juga mendorong peserta menggali ilmu sebanyak-banyaknya selama pelatihan. Peserta dapat menerapkan pengetahuan tersebut untuk memperbaiki pengelolaan kebun masing-masing.
Sawit Menopang Perekonomian Aceh
Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dr. Zulfadli, S.P., M.P., mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh dalam kegiatan tersebut.
Zulfadli menyoroti besarnya potensi sumber daya alam Aceh, terutama sektor perkebunan kelapa sawit. Komoditas ini menjadi salah satu penopang pendapatan masyarakat Aceh, termasuk warga Kota Subulussalam.
Sawit juga memiliki peran penting dalam persaingan industri minyak nabati dunia. Karena itu, pekebun perlu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.
Zulfadli mengidentifikasi beberapa tantangan utama. Tantangan tersebut meliputi peningkatan hasil kebun, penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan pencegahan kebakaran lahan.
Ia mendorong pekebun menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar. Praktik ini membantu mengurangi risiko kebakaran dan mendukung perlindungan lingkungan.
Selain itu, Zulfadli menekankan pentingnya pengembangan industri hilir. Menurutnya, nilai tambah kelapa sawit tidak hanya berasal dari hasil panen di kebun.
Baca Juga: BPDP dan BPI Latih 180 Petani Sawit Aceh Timur soal Budidaya dan Regulasi
Pabrik kelapa sawit dan industri pengolahan lanjutan juga berperan dalam meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut. Salah satu contohnya ialah pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi minyak goreng dan produk lainnya.
Zulfadli juga berharap BPI dapat membantu menyampaikan informasi mengenai kondisi Aceh yang kondusif bagi pengembangan usaha dan investasi, khususnya di sektor perkebunan.
Dorong Sawit Rakyat Lebih Produktif
Pelatihan SDM Perkebunan 2026 di Aceh diharapkan meningkatkan keterampilan pekebun dalam menghadapi tantangan industri kelapa sawit.
Pekebun perlu menggabungkan teknik budidaya yang baik dengan kepatuhan terhadap regulasi. Mereka juga perlu memperkuat kelembagaan, mengelola keuangan, dan menjaga lingkungan.
Melalui langkah tersebut, pekebun dapat mengembangkan usaha secara lebih terencana. Upaya ini juga diharapkan meningkatkan hasil kebun dan mendukung kesejahteraan masyarakat Aceh.[Khalil]















