Pewarta Aceh | BANDA ACEH — Staf Khusus Gubernur Aceh Junaidi menerima aduan sawah rusak pascabencana hidrometeorologi. Masyarakat melaporkan kondisi tersebut dari sejumlah kabupaten di Aceh.
Junaidi menerima laporan itu bersama dokumentasi lapangan awal September 2026. Foto dan laporan warga menunjukkan sawah mengering dan mulai tertutup semak.
Banjir juga membawa material hingga menutup sejumlah saluran irigasi. Kondisi tersebut membuat petani membutuhkan penanganan lanjutan.
Masyarakat menyampaikan laporan dari Matang Seuping dan Tanjung Genteng, Aceh Tamiang. Warga Rhieng Blang, Pidie Jaya, juga menyampaikan keluhan serupa.
Warga Titi Baroeh, Aceh Timur, ikut melaporkan kondisi sawah mereka. Laporan lain datang dari Gampong Gelanggang Panah, Kabupaten Bireuen.
“Kondisi di lapangan masih memerlukan penanganan lanjutan. Laporan ini sudah kami teruskan kepada Gubernur, serta Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh,” kata Junaidi, Selasa, 8 September 2026.
Junaidi Dorong Percepatan Penanganan
Junaidi menilai kerusakan sawah berdampak langsung terhadap petani. Sejumlah petani bahkan belum bisa menanam kembali sejak bencana terjadi.
“Kami berharap percepatan penanganan ini benar-benar menjadi prioritas, karena dampaknya langsung dirasakan petani,” kata Junaidi.
Ia mengatakan banyak petani belum dapat mengolah lahannya kembali. Kondisi itu membuat percepatan rehabilitasi menjadi kebutuhan mendesak.
Junaidi juga mendorong semua pihak mengikuti arahan Gubernur Aceh. Ia meminta instansi terkait bergerak lebih cepat di lapangan.
Junaidi kemudian menyampaikan laporan tersebut kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Gubernur langsung mengarahkan jajaran pertanian untuk mempercepat penanganan.
Muzakir Manaf meminta Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Azanuddin Kurnia mengambil langkah cepat. Ia juga meminta jajarannya membantu petani terdampak bencana.
Pemerintah Perkuat Kolaborasi
Gubernur meminta seluruh jajaran mengerahkan sumber daya yang tersedia. Ia juga mengajak pemerintah kabupaten dan kota memperkuat koordinasi.
TNI dan kelompok tani juga akan mendukung proses penanganan. Pemerintah Aceh turut memperkuat komunikasi dengan Kementerian Pertanian.
Muzakir Manaf juga mengarahkan pengiriman surat kepada Menteri Pertanian. Pemerintah Aceh akan mengirim surat serupa kepada Menteri ATR/BPN.
Baca Juga: Kemenag Nagan Raya dan Kejari Perkuat Sinergi Hukum
Pemerintah Aceh meminta Kementerian Pertanian menghitung kebutuhan biaya per hektare. Kajian cepat itu akan membantu pemerintah menyusun langkah rehabilitasi.
Pemerintah juga meminta Kementerian ATR/BPN membantu pemetaan batas lahan. Banjir dan material bencana membuat sejumlah batas sawah sulit terlihat.
16.276 Hektare Sawah Rusak Berat
Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menunjukkan 16.276 hektare sawah mengalami kerusakan berat. Pemerintah masih menunggu penanganan terhadap lahan tersebut.
Data yang sama mencatat 40.852 hektare sawah mengalami kerusakan ringan dan sedang. Pemerintah menargetkan penanganan seluruh lahan tersebut rampung pada 2026.
Percepatan rehabilitasi menjadi perhatian karena sawah menopang kehidupan banyak petani. Pemerintah Aceh kini mendorong koordinasi lintas sektor untuk memulihkan lahan.
Langkah tersebut juga bertujuan membantu petani kembali mengolah sawah. Pemerintah berharap proses pemulihan berjalan tepat dan sesuai kebutuhan lapangan.















