Scroll untuk baca artikel
AcehHeadlinePendidikan

Yayasan Nasabe Sajan Yatim Nilai Dapur SPPG Lebih Tepat untuk Pelaksanaan MBG

208
×

Yayasan Nasabe Sajan Yatim Nilai Dapur SPPG Lebih Tepat untuk Pelaksanaan MBG

Sebarkan artikel ini

Yayasan Nasabe Sajan Yatim Nilai Dapur SPPG Lebih Tepat untuk Pelaksanaan MBG

Foto : Ilustrasi

PewartaAceh | Banda Aceh 12 Sept 2026 — Yayasan Nasabe Sajan Yatim menilai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap lebih tepat dijalankan melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mengingat pola pelayanan program tersebut membutuhkan perencanaan dan pengelolaan khusus.

PENYALUR PERLENGKAPAN OUTBOUND & ADVENTURE EQUIPMENT

Perwakilan Yayasan Nasabe Sajan Yatim, Khaliluddin, mengatakan, MBG memiliki karakter pelayanan yang berbeda dengan aktivitas kantin sekolah. Program tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi penerima manfaat berdasarkan jumlah dan ketentuan yang telah ditetapkan.

“Kalau kita berbicara tentang MBG, yang dilayani bukan hanya beberapa anak. Jumlah penerimanya bisa sangat banyak dalam satu sekolah. Karena itu, menurut kami, dapur SPPG memang lebih tepat karena sejak awal sistemnya sudah disiapkan untuk memproduksi dan melayani makanan dalam jumlah besar,” ujar Khaliluddin.

Menurut dia, apabila pelayanan MBG ditempatkan pada kantin sekolah, sejumlah aspek teknis perlu menjadi perhatian, terutama berkaitan dengan kemampuan menyediakan makanan sesuai jumlah penerima manfaat dalam waktu yang telah ditentukan.

“Kalau kantin, aktivitasnya tentu berbeda dengan pelayanan MBG. Kantin biasanya melayani siswa yang datang membeli makanan, sedangkan MBG harus memastikan makanan diberikan kepada penerima manfaat sesuai jumlah yang sudah ditetapkan. Ini membutuhkan sistem pelayanan yang berbeda,” katanya.

Khaliluddin mengatakan, dapur SPPG memiliki pola kerja yang sejak awal disusun untuk mendukung pelaksanaan MBG. Jumlah makanan yang diproduksi, kebutuhan bahan, tenaga pengolah hingga proses distribusi dapat dipersiapkan berdasarkan jumlah penerima manfaat.

“SPPG bekerja dengan perencanaan. Berapa jumlah penerima, berapa makanan yang harus disiapkan, kapan harus selesai dan kapan didistribusikan, semuanya diperhitungkan. Menurut kami, pola seperti ini penting dipertahankan dalam pelaksanaan MBG,” ujarnya.

Ia menilai keberlangsungan pelayanan juga menjadi faktor penting dalam menjalankan program tersebut. MBG bukan sekadar penyediaan makanan pada waktu tertentu, tetapi membutuhkan pola kerja yang konsisten agar penerima manfaat memperoleh layanan sesuai ketentuan program.

Menurut Khaliluddin, jika dalam pelaksanaan SPPG masih ditemukan kekurangan, langkah yang diperlukan adalah melakukan evaluasi dan memperkuat kapasitas pengelola.

“Kalau memang masih ada kekurangan di SPPG, menurut kami itu yang perlu diperbaiki. Kapasitasnya bisa ditingkatkan, sistemnya bisa dievaluasi dan pengawasannya bisa diperkuat. Jangan sampai karena ada kekurangan, kemudian sistem yang sudah dibangun harus berubah seluruhnya,” katanya.

Pandangan tersebut disampaikan menyusul adanya pembahasan mengenai kemungkinan pelibatan kantin sekolah dalam pelaksanaan MBG. Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya menyatakan opsi tersebut masih dalam tahap kajian sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan program.

Sementara itu, SPPG sendiri telah menjadi bagian dari sistem pelaksanaan MBG dengan berbagai ketentuan mengenai pengelolaan, standar pelayanan dan pengawasan. BGN juga melakukan penataan operasional SPPG untuk meningkatkan efektivitas dan standardisasi pelaksanaan program.

Khaliluddin berharap evaluasi yang dilakukan pemerintah dapat semakin memperkuat dapur SPPG sehingga pelayanan MBG dapat berjalan lebih optimal.

“Yang kami pikirkan adalah keberlangsungan programnya. MBG ini program besar dan penerimanya sangat banyak. Jadi diperlukan sistem yang memang mampu bekerja setiap hari dengan perencanaan yang jelas. Menurut kami, SPPG sudah dibangun untuk kebutuhan tersebut,” ujarnya.

Ia menegaskan, pandangan tersebut disampaikan sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program MBG dan upaya memastikan manfaatnya dapat diterima secara optimal oleh penerima manfaat.

“Kami mendukung program MBG karena manfaatnya sangat besar bagi anak-anak. Harapan kami, dapur SPPG tetap menjadi bagian utama dalam pelaksanaannya dan terus diperkuat. Kalau ada kekurangan, mari diperbaiki bersama supaya program ini semakin baik,” kata Khaliluddin.