Puisi di Antara Tumpukan Kayu Bakar
Malam belum terlalu larut ketika suara nyanyian ramai-ramai memecah sudut Kedai Kopi Cut Ayah, Pango, Banda Aceh. “Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita, tak ada kopi tak usah banyak cerita, ayo ngopi kita bercerita, banyak ngopi banyak kali cerita kau.” Jumat malam itu, 10 Juli 2026, para pengunjung melantunkan kalimat itu bersama-sama, bersahutan, seperti mantra yang membuka pintu ke sebuah dunia yang jarang terjadi: pejabat, seniman, dan pengunjung biasa duduk sama rendah, ditemani asap kopi dan bau kayu bakar.
Malam itu tak memakai panggung megah. Panitia hanya menggeser beberapa meja untuk memberi ruang berdiri. Tumpukan kayu bakar di depan dapur kopi, di sisi kiri “panggung” itu, memang sudah ada di situ sejak awal—bukan properti, melainkan bagian dari dapur kedai yang sebenarnya. Di bawah atap rumbia itulah, di antara pengunjung yang tetap hilir-mudik memesan kopi, giliran demi giliran orang berdiri memegang mikrofon dan membacakan puisi.
Kehadiran Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun, membuat malam itu berbeda dari sekadar acara sastra biasa. Ia datang bukan sebagai pejabat yang memberi sambutan protokoler, melainkan sebagai tamu yang ikut larut. Bahkan ia menolak kesempatan berpidato. “Tak ada yang mau dengar seremonial, nanti pembacaan puisi malah jadi acara basi,” katanya—begitu seniman Fikar W Eda, pemandu acara, menuturkannya kembali keesokan harinya.
Mengapa Ini Penting
Di tengah rutinitas birokrasi yang sarat protokol, momen seorang sekda berdiri di antara kayu bakar dan asap kopi untuk membaca puisi—bahkan mengaku memakai bantuan kecerdasan buatan—menjadi penanda kecil tapi bermakna: ruang publik informal seperti kedai kopi masih bisa menjadi tempat pertemuan gagasan, kritik sosial, dan kejujuran personal, jauh dari panggung resmi. Peristiwa ini juga merekam bagaimana sastra lisan di Aceh terus hidup, beradaptasi bahkan dengan teknologi AI, sembari tetap menyuarakan kegelisahan tentang bencana, ketimpangan, dan cinta yang tak lekang zaman.
Ketika Sekda Bercerita Cinta yang Gagal
Nasir naik ke “panggung darurat” itu dengan sedikit canggung. Ia mengaku tidak menulis sendiri puisi yang akan ia bacakan. “Saya minta pada AI agar dibuatkan puisi tentang pejuang. Maka dibuatkannya,” katanya, sembari tersenyum kikuk.
Namun cerita yang mengiringi puisi itu justru mencuri perhatian pengunjung, bukan puisinya sendiri. “Saya takut baca puisi. Terakhir saya baca puisi tahun 1995 di Balai Gading, Yogyakarta,” kata Nasir, yang menempuh S1 di Universitas Widya Mataram dan S2 di Universitas Gadjah Mada.
Ia lalu membuka kenangan lama itu perlahan-lahan, seperti membuka kembali halaman buku lama yang sudah bertahun-tahun tak pernah ia sentuh. “Saya bersedia membaca puisi waktu itu, karena tertarik pada seorang gadis. Saya membeli buku puisi dan bunga. Namun, gadis itu menolak saya. Maka saya gagal membaca puisi,” katanya.
Pengunjung langsung tertawa—terlebih Malahayati, istri Nasir sendiri, duduk di antara mereka. “Ini cerita lama ya, Ma,” kata Nasir sambil melirik istrinya, sebelum menutup dengan kalimat yang kembali mengundang gelak tawa, “Oh ya, saya gagal di Yogya, dan mendapatkan Bu Mala.”
Kehadiran Nasir yang santai itu seolah memantik suasana. Setelahnya, seniman-seniman ternama Aceh naik satu per satu membacakan karya mereka. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, pun turut membacakan puisi malam itu.
Segelas Kopi, Bergelas-gelas Kegelisahan
Jika tawa membuka malam itu, ia berkembang menjadi ruang untuk melampiaskan kegelisahan. Akademisi Herman RN membacakan puisi tentang cinta rakyat Gayo kepada Indonesia yang justru berbalas kekecewaan. Pembaca termuda malam itu, Fathya Ruziqna—mahasiswi Universitas Syiah Kuala—menyuarakan alam yang rusak hingga mendatangkan banjir yang menggulung permukiman, sawah, dan ladang.
Puisi Jamal Syarif menyambut kegelisahan serupa lewat tema perambahan hutan. “Manusia menjadi korban yang diciptakan sendiri. Kopi belum sempat diminum habis, kedainya sudah digulung bencana,” kata Jamal Syarif, seniman.
Mai Munzir turut membawa kritik sosial malam itu dengan menyanyikan langsung lagu “Poh Bandet” karya Nazar Apache: “Bandet kota ubee raya mbong, bandet gampong peudeuh gaya, bandet pasai reman meuhamboo, bandet kanto yang cok laba.” Senada dengan itu, Apa Kaoy membacakan puisi “Benarkah” karya pengusaha Alwin Abdullah, yang menggugat manusia yang saling membenci. “Benarkah itu manusia, sebab manusia dilahirkan bukan untuk saling membenci,” demikian larik yang mengalir dari mikrofon.
Namun kopi malam itu tak hanya melahirkan gugatan. Devi Matahari melukiskan kenangan cinta seorang anak kepada ibunya lewat segelas sanger dan sedotan plastik biru. Wina SW1 menegaskan bahwa kopi bukan hak eksklusif siapa pun: “Kopi bukan milik lelaki, juga bukan milik perempuan.” Fauzan Santa membawakan monolog jenaka tentang dialog Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien sebelum secangkir kopi terakhir sang pahlawan.
Puisi malam itu juga merambah hal-hal yang lebih teknokratis. Kepala BPSDM Aceh, Marthunis, menyamakan pengembangan sumber daya manusia dengan “meracik kopi berkualitas tinggi.” Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, T. Banta Nuzullah, lewat puisi “Sembilan Kata”, bahkan menghitung nilai ekonomi secangkir kopi Aceh: “Dari secangkir kopi itu, ada Rp15,6 miliar setiap hari, Rp468 miliar per bulan, dan Rp5,6 triliun dalam setahun.”
Kopi yang Menyisakan Kesan
Malam itu berakhir seperti kopi yang tandas di dasar gelas—tenang, tapi meninggalkan rasa. Beberapa seniman mengucapkan terima kasih kepada Nasir yang hadir tanpa sekat protokoler. Sebelum beranjak dari kedai, Sekda itu menitipkan satu kalimat penutup yang mungkin menjelaskan mengapa malam itu begitu berarti bagi banyak orang.
“Menurut saya, kita perlu sering bergaul dengan seniman dan mendengarkan puisi agar kita dapat membuka ruang hati. Saya senang bisa bersama seniman,” katanya.
Di luar kedai, tumpukan kayu bakar masih menunggu di tempatnya. Kopi sudah habis. Namun cerita-cerita yang mengalir malam itu—soal penolakan cinta, kerusakan hutan, dan nilai kopi yang mencapai triliunan rupiah—tetap menggantung di udara Pango, lama setelah gelas terakhir kosong.
[Dr Nurlis Effendi adalah Juru Bicara Pemerintah Aceh.]















