Pewarta Aceh | Banda Aceh — Pengamat Intelijen dan Keamanan Aceh, Syafruddin, mengingatkan potensi munculnya kembali aksi serentak menjelang Desember 2026. Ia menyampaikan peringatan itu usai sejumlah kelompok mengibarkan bendera daerah disertai narasi kemerdekaan saat peringatan Hari Damai Aceh (HDA) ke-21 pada 15 Agustus 2026. Syafruddin menyampaikan hal tersebut di Banda Aceh, Selasa (25/8/2026).
Pria yang akrab disapa Cek Din itu menjabat Sekretaris PD Pemuda Panca Marga (PPM) Aceh. Ia menilai kerja intelijen turut menjaga stabilitas keamanan Aceh selama peringatan HDA berlangsung. Aksi tersebut, menurutnya, tidak berkembang meluas berkat deteksi dini.
“Deteksi dini menjadi penting untuk membaca potensi kerawanan sebelum berkembang menjadi aksi terbuka,” ujar Syafruddin.
Kesamaan Momentum Aceh dan Papua
Syafruddin menyoroti kemunculan aktivitas serupa di Papua pada tanggal yang berdekatan. Ia menyebut aksi di Papua bertepatan dengan peringatan New York Agreement. Ia menilai aparat keamanan perlu mencermati kesamaan waktu ini dari sisi dinamika keamanan nasional.
“Kesamaan momentum tersebut perlu dicermati dari perspektif dinamika keamanan dan politik,” katanya.
Ia juga menyoroti penggunaan kawasan Masjid Raya Baiturrahman sebagai lokasi penyampaian agenda politik. Masjid tersebut, kata dia, memiliki nilai sejarah dan keagamaan yang kuat bagi masyarakat Aceh.
“Masjid Raya Baiturrahman seharusnya menjadi simbol kedamaian Aceh, bukan panggung agenda politik,” tegasnya.
Baca Juga: ATM BPOM Hadir di Pidie dan Lhokseumawe, Layanan Makin Dekat
Dugaan Keterkaitan Jaringan
Syafruddin menyinggung dugaan kesamaan agenda antara jaringan Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) dan West Papua Liberation Organization (WPLO). Ia menyebut terdapat indikasi komunikasi antarjaringan tersebut. Namun, dugaan koordinasi langsung masih memerlukan pendalaman lebih jauh.
“Ada indikasi koordinasi, tetapi intelijen masih melakukan verifikasi berdasarkan data dan fakta,” jelasnya.
Kedua jaringan itu, tambahnya, juga aktif mengikuti sejumlah forum internasional di luar negeri.
Antisipasi Jelang Desember 2026
Syafruddin mengarahkan perhatian pada momentum awal Desember 2026 yang berdekatan dengan peringatan HUT GAM di Aceh dan HUT OPM di Papua. Radar deteksi dini intelijen, katanya, sudah mulai bekerja sejak sekarang.
“Radar deteksi dini intelijen sudah mulai bekerja sebelum Desember,” ujarnya.
Ia mendorong penguatan pemetaan aktor dan jaringan secara berkelanjutan. Aparat juga perlu memperkuat pemantauan mobilisasi massa dan narasi provokatif di ruang digital. Ia menekankan pentingnya mempererat koordinasi lintas lembaga.
Syafruddin menegaskan penguatan intelijen bukan berarti mengedepankan pendekatan keamanan semata. Langkah pencegahan, menurutnya, tetap harus profesional, terukur, dan sesuai hukum.
“Intelijen yang kuat mampu membaca tanda-tanda awal sebelum masalah berkembang menjadi eskalasi,” pungkas Syafruddin.















