Pewarta Aceh | KUDUS – Murid-murid SLBN Purwosari Kudus kini merasakan cara belajar baru lewat Interactive Flat Panel (IFP) berbasis kecerdasan artifisial. Mereka menyimak video pembelajaran AI, bahkan membaca buku digital dari laman budi.kemendikdasmen.go.id. Kegiatan ini berlangsung di sekolah luar biasa tersebut, Jumat (31/7). Inovasi ini menghadirkan pengalaman belajar yang jauh lebih interaktif bagi anak berkebutuhan khusus.
Riska Widyanasari, Guru Kelas Tuli di SLBN Purwosari Kudus, merasakan langsung dampak perubahan itu. Ia menggunakan video berbasis AI pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Murid pun memahami sekaligus mempraktikkan tata cara hormat kepada Bendera Merah Putih. Guru juga memanfaatkan buku digital untuk melatih kemampuan menyimak dan memahami bacaan.
“IFP sangat membantu proses pembelajaran, terutama di SLB karena pembelajaran menjadi lebih interaktif, bermakna, dan menyenangkan sesuai dengan tiga prinsip utama Pembelajaran Mendalam,” ujar Riska, Guru Kelas Tuli SLBN Purwosari Kudus.
Murid Lebih Aktif dan Fokus
Riska menyaksikan perubahan nyata di ruang kelasnya. Murid tampak lebih aktif berpartisipasi selama pembelajaran berlangsung. Bahkan, mereka menunjukkan semangat dan fokus yang jauh meningkat dibandingkan sebelumnya.
“Murid menjadi lebih aktif berpartisipasi, lebih semangat, lebih fokus, dan lebih mudah memahami materi dibandingkan saat menggunakan media pembelajaran konvensional,” katanya.
Tantangan tetap muncul di balik capaian tersebut. Setiap murid memiliki kemampuan berbeda dalam mengoperasikan teknologi, sehingga sebagian dari mereka membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Riska mengatasi kendala ini dengan strategi bertahap. Ia memanfaatkan tutor teman sebaya untuk membantu murid yang kesulitan. Ia juga memilih media pembelajaran sederhana agar seluruh murid mudah mengoperasikannya.
Komitmen Pemerintah untuk Pendidikan Inklusif
Praktik baik di SLBN Purwosari Kudus mencerminkan arah kebijakan pendidikan nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan berkualitas. Hak ini mencakup anak berkebutuhan khusus, anak di wilayah 3T, bahkan anak di daerah bencana dan daerah konflik.
“Pemerintah berkomitmen memberikan layanan pendidikan untuk semua. Salah satu pendekatannya adalah terus mengembangkan pendidikan inklusif agar anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama teman-temannya, tumbuh rasa percaya diri, dan mengembangkan bakat serta potensinya,” ujar Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pemerintah juga berencana memperkuat layanan di Sekolah Luar Biasa secara menyeluruh. Salah satu langkahnya, pemerintah akan menambah satuan pendidikan di berbagai daerah. Langkah ini bertujuan menjangkau lebih banyak anak berkebutuhan khusus.
“Layanan pendidikan di SLB akan terus kami tingkatkan, termasuk penambahan satuan pendidikan, agar semakin banyak anak berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya,” tegasnya.
Digitalisasi pendidikan di SLBN Purwosari Kudus membuktikan bahwa teknologi bukan sekadar perangkat tambahan di kelas. Teknologi justru berperan memastikan setiap anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang setara. Bahkan, anak berkebutuhan khusus kini dapat mengembangkan potensinya secara lebih optimal.















