Scroll untuk baca artikel
Banda AcehInternasionalPendidikan

CENTROVETS-OHCC USK dan MyOHUN Malaysia Perkuat Kolaborasi Riset One Health

48
×

CENTROVETS-OHCC USK dan MyOHUN Malaysia Perkuat Kolaborasi Riset One Health

Sebarkan artikel ini
Penandatanganan MoU antara CENTROVETS-OHCC USK dan MyOHUN Malaysia di Putrajaya, Malaysia.

Pewarta Aceh | BANDA ACEH – Pusat Riset Center for Tropical Veterinary Studies-One Health Collaboration Center (CENTROVETS-OHCC) Universitas Syiah Kuala (USK) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Malaysia One Health University Network (MyOHUN). Kedua lembaga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di Putrajaya International Convention Center (PICC), Malaysia, Rabu (23/7/2026). Kesepakatan itu bertujuan memperkuat riset, memperluas jejaring akademik, serta mengembangkan pendekatan One Health di tingkat regional dan internasional.

Penandatanganan MoU berlangsung di Panggung Utama Ruang Perdana Hall. Agenda tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian The Global Animal Production and Veterinary Industry Summit (GAVIS) 2026. Forum itu mempertemukan akademisi, peneliti, pelaku industri veteriner, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

Kepala Pusat Riset CENTROVETS-OHCC USK, drh. Teuku Reza Ferasyi, MSc., PhD., menandatangani dokumen kerja sama bersama Presiden MyOHUN, Prof. Abdul Rahman Omar, DVM, PhD. Sejumlah pimpinan universitas, pakar kedokteran hewan Malaysia, dan pelaku industri veteriner turut menyaksikan prosesi tersebut. Selain itu, perwakilan Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur juga menghadiri kegiatan tersebut.

Kolaborasi Perluas Jejaring Akademik

Teuku Reza Ferasyi menilai kolaborasi ini menjadi langkah penting bagi USK. Menurutnya, kerja sama tersebut mampu meningkatkan daya saing akademik sekaligus memperluas jejaring riset internasional. Karena itu, kedua lembaga sepakat membangun kolaborasi yang berkelanjutan.

“Dalam rangka meningkatkan kepakaran ilmiah dan memperkuat kerja sama riset internasional di bidang One Health, kami sepakat dengan MyOHUN untuk saling mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bermanfaat bagi akademisi, pemerintah, maupun masyarakat umum,” kata Teuku Reza Ferasyi, Kepala Pusat Riset CENTROVETS-OHCC USK.

Ia menjelaskan kolaborasi tersebut membuka peluang penelitian bersama. Tidak hanya itu, dosen, peneliti, dan mahasiswa juga dapat memperluas pengalaman akademik melalui pertukaran keilmuan. Dengan demikian, hasil riset diharapkan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Targetkan Inovasi dan Kebijakan Berbasis Riset

Presiden MyOHUN, Prof. Abdul Rahman Omar, menyambut baik kemitraan dengan USK. Menurutnya, kerja sama itu memiliki nilai strategis untuk memperluas penelitian di kawasan Asia Tenggara, terutama Pulau Sumatra. Sementara itu, kedua lembaga juga akan mengoptimalkan potensi sumber daya manusia dan fasilitas penelitian.

“Kami berharap kerja sama ini melahirkan banyak kontribusi akademik, baik berupa draf kebijakan maupun inovasi riset untuk mendukung penguatan implementasi pendekatan One Health secara regional dan global,” kata Prof. Abdul Rahman Omar.

Ia berharap kolaborasi tersebut menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kelestarian lingkungan. Selain itu, hasil penelitian bersama juga dapat menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

CENTROVETS-OHCC berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala. Selama beberapa tahun terakhir, pusat riset itu aktif membangun kemitraan dengan pemerintah, organisasi nonpemerintah, serta berbagai lembaga nasional dan internasional. Bahkan, lembaga tersebut terus mendukung pengembangan ilmu pengetahuan melalui riset kolaboratif.

Selanjutnya, kerja sama dengan MyOHUN membuka peluang penyelenggaraan penelitian bersama, publikasi ilmiah, pertukaran akademisi, dan pengembangan kapasitas peneliti. Pada akhirnya, kedua lembaga menargetkan lahirnya rekomendasi kebijakan yang memperkuat penerapan konsep One Health di tingkat regional maupun global.