Scroll untuk baca artikel
AcehPemerintah

Gubernur Mualem Pastikan Hilirisasi Migas Blok Andaman Siap Dorong Ekonomi Aceh

46
×

Gubernur Mualem Pastikan Hilirisasi Migas Blok Andaman Siap Dorong Ekonomi Aceh

Sebarkan artikel ini
Mualem menegaskan hilirisasi migas Blok Andaman menjadi motor penggerak ekonomi Aceh.

PewartaAceh | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, memastikan Pemerintah Aceh menyiapkan hilirisasi minyak dan gas (migas) Blok Andaman untuk mendorong pertumbuhan industri, meningkatkan ekonomi daerah, dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di Aceh.

Mualem menyampaikan komitmen tersebut di Jakarta, Rabu (1/7/2026). Menurutnya, Aceh harus memanfaatkan cadangan gas alam Andaman melalui perencanaan yang matang agar masyarakat merasakan manfaat jangka panjang.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

“Gas alam melimpah, kita harus persiapkan diri dengan matang. Lampu hijau hilirisasi sudah kita dapatkan,” kata Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.

Mualem menilai Blok Andaman bukan sekadar sumber pendapatan daerah. Sebaliknya, kawasan itu harus menjadi penggerak pembangunan ekonomi dan industri Aceh.

“Mengembangkan sumber daya manusia, dan kemanfaatan lainnya. Karena itu, perlu perencanaan yang matang. Itu tidak semudah membalikkan telapak tangan,” kata Mualem.

Pemerintah Aceh Percepat Persiapan Hilirisasi

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr. Nurlis Effendi, menjelaskan Pemerintah Aceh terus membahas rencana hilirisasi dalam sejumlah rapat yang dipimpin Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun.

Saat ini, kawasan Andaman memiliki enam blok migas utama. Blok tersebut meliputi Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman.

Pada tahap awal, Mubadala Energy mengembangkan Lapangan Gas Tengkulo di Wilayah Kerja South Andaman. Proyek itu menjadi langkah pertama pengembangan hilirisasi migas di Aceh.

“Project inilah yang mengawali pergerakan hilirisasi,” kata Dr. Nurlis Effendi.

Berikutnya, Pemerintah Aceh memusatkan pengembangan hilirisasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe. Langkah tersebut mendukung Program Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 sekaligus selaras dengan RPJMA Aceh.

Gas Andaman Buka Peluang Industri Baru

Nurlis mengungkapkan Lapangan Gas Tengkulo berpotensi menghasilkan sekitar 300 MMSCFD gas per hari. Hingga kini, komitmen penjualan gas melalui Gas Sale Agreement (GSA) baru mencapai 160 MMSCFD untuk PLN.

Artinya, Aceh masih memiliki pasokan gas yang besar untuk mendorong pertumbuhan industri baru.

Nurlis menjelaskan gas tersebut dapat menghasilkan metanol dan hidrogen. Kedua komoditas itu berperan penting dalam industri energi nasional.

“Di sini saja, sudah mesti dibuat persiapan membangun pabrik methanol. Methanol ini masuk dalam program strategis nasional biodiesel. Biodiesel dari kelapa sawit membutuhkan campuran methanol,” kata Nurlis.

Tidak hanya itu, Wilayah Kerja South Andaman juga menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat setiap hari. Kondensat tersebut menjadi bahan baku nafta, kerosin, gasoline, serta berbagai kebutuhan industri.

Karena itu, Pemerintah Aceh mendorong pembangunan refinery agar nilai tambah migas tetap berada di Aceh. Langkah tersebut berpotensi membuka investasi, lapangan kerja, dan peluang usaha baru.

Pengembangan SDM Jadi Prioritas

Di sisi lain, Pemerintah Aceh juga memprioritaskan pengembangan SDM lokal. Pemerintah ingin menyiapkan tenaga kerja yang mampu mengisi kebutuhan industri migas dan industri turunannya.

“Di sinilah pengembangan pendidikan perlu dilakukan. Mubadala kita harapkan dapat berperan mendidik SDM Aceh. Itulah sebabnya, Gubernur Mualem menginginkan persiapan perencanaan yang matang, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk kepentingan Aceh,” kata Dr. Nurlis Effendi.

Ke depan, Pemerintah Aceh berkomitmen membangun ekosistem industri migas yang kuat. Dengan demikian, hilirisasi Blok Andaman tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan investasi, serta memperkuat daya saing ekonomi Aceh secara berkelanjutan.