Scroll untuk baca artikel
Banda Aceh

BPI, Ditjenbun, dan BPDP Latih 192 Petani Sawit Swadaya Aceh Timur

81
×

BPI, Ditjenbun, dan BPDP Latih 192 Petani Sawit Swadaya Aceh Timur

Sebarkan artikel ini
Sebanyak 192 petani Aceh Timur mengikuti pelatihan budidaya sawit di Banda Aceh.

Pewarta Aceh | BANDA ACEH – Sebanyak 192 petani kelapa sawit swadaya asal Kabupaten Aceh Timur mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit di Banda Aceh. Kegiatan ini berlangsung selama sepekan, mulai 31 Agustus hingga 5 September 2026. Best Planter Indonesia (BPI) menggandeng Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk menyelenggarakan pelatihan ini. Program ini mendorong petani meningkatkan produktivitas kebun tanpa memperluas lahan.

BPI mengusung konsep intensifikasi lahan dalam setiap materi pelatihan. Peserta mempelajari cara memenuhi standar pengelolaan kebun yang ramah lingkungan. Para mentor yang mengisi kelas berasal dari praktisi berpengalaman puluhan tahun di industri sawit. Bahkan, BPI menjalankan program ini dengan filosofi “Membangun Kebun adalah Membangun Manusia”.

PENYALUR PERLENGKAPAN OUTBOUND & ADVENTURE EQUIPMENT

BPDP mendanai seluruh rangkaian pelatihan ini. Ditjenbun turut memberikan dukungan teknis sepanjang kegiatan berlangsung. Peserta menginap dan mengikuti kelas di Hotel Mekkah serta Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh.

Materi Pelatihan Mencakup Delapan Aspek Budidaya

Panitia menyusun materi pelatihan secara komprehensif untuk petani sawit swadaya. Peserta mempelajari regulasi dan kebijakan budidaya sawit sejak hari pertama. Kelas juga membahas persiapan benih, bahan tanam, hingga pengolahan lahan.

Materi lanjutan mencakup teknis penanaman dan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM). Peserta turut mendalami pengendalian gulma dan teknik pemupukan yang tepat. Pada sesi terakhir, instruktur mengajarkan pengendalian hama dan penyakit tanaman sawit secara terpadu.

Pejabat Daerah Hadiri Pembukaan Pelatihan

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, M. Apuk Ismane, membuka acara secara daring. Sejumlah pejabat daerah pun hadir langsung di ballroom Hotel Mekkah. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, Azanuddin Kurnia, memimpin kehadiran unsur pemerintah provinsi.

Kabid PPSDMPP Distanbun Aceh Mukhlis dan Kabid Produksi Perkebunan Fachrurrazi mendampingi jalannya pembukaan. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Aceh Timur, Murdhani, mewakili daerah asal peserta. Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Kota Subulussalam, Andriansyah, mengikuti acara secara daring dari Subulussalam. Di sisi penyelenggara, Direktur Operasional BPI, Friyandito, memimpin delegasi bersama narasumber dan panitia.

Kunjungan Lapang ke Koperasi Bersertifikat RSPO

Peserta pelatihan melakukan kunjungan lapang pada Sabtu, 5 September 2026. Rombongan mendatangi Koperasi Produsen Perkebunan Berkat Bunga Damai di Gampong Cot Girek, Aceh Utara. Sehari sebelumnya, peserta, narasumber, dan panitia sempat menginap di Hotel Diana dan Hotel Rajawali, Lhokseumawe. Perjalanan menuju lokasi koperasi memakan waktu sekitar dua jam.

Ketua Koperasi Berkat Bunga Damai, Abu Bakar AR, menyambut rombongan bersama pengurus koperasi. Ia menjelaskan bahwa koperasi ini sebelumnya berbentuk Gapoktan Berkat Bunga Damai. Status kelembagaan naik menjadi koperasi pada 2022. Bahkan, koperasi berhasil mengantongi Sertifikat RSPO pada Maret 2026.

Tiga Langkah Strategis Koperasi Berkat Bunga Damai

Koperasi menerapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi sawit. Pengurus meningkatkan praktik agronomi terbaik melalui penggunaan bibit unggul bersertifikat. Bibit tersebut berasal dari bantuan program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) tahun 2022. Tak hanya soal bibit, koperasi juga menerapkan pemupukan terukur dan pengelolaan hama terpadu.

Pengurus koperasi membantu petani mengurus Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Dokumen ini memberi kepastian hukum sekaligus ketertelusuran hasil kebun. Di samping itu, koperasi menyelesaikan status lahan agar bebas dari kawasan hutan dan area konservasi.

Penguatan kelembagaan petani menjadi langkah strategis ketiga koperasi. Pengurus mendorong petani bergabung dalam kelembagaan untuk memperkuat akses modal. Langkah ini juga meningkatkan posisi tawar harga tandan buah segar (TBS). Terlebih lagi, koperasi membangun kemitraan strategis guna menjamin pasokan TBS dan pembinaan teknis.

Kunjungan lapang ini memberi bekal nyata bagi peserta pelatihan. Petani diharapkan mampu menerapkan praktik terbaik di kebun masing-masing. Dengan begitu, langkah ini menjadi kunci mendorong peningkatan produksi sawit secara berkelanjutan.