Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Hukum & Kriminal

Kapolresta Banda Aceh Tindak Lanjuti Dugaan Intimidasi terhadap Jurnalis

0
×

Kapolresta Banda Aceh Tindak Lanjuti Dugaan Intimidasi terhadap Jurnalis

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PewartaAceh | Banda Aceh – Polresta Banda Aceh menindaklanjuti laporan dugaan intimidasi terhadap jurnalis saat aksi penolakan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) di Kantor Gubernur Aceh.

Kapolresta Banda Aceh, Andi Kirana, menggelar pertemuan dengan sejumlah awak media di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, Jumat (15/5/2026).

Example 300x600

Dalam pertemuan itu, Andi Kirana mendengarkan langsung keterangan dari tiga jurnalis yang mengalami intimidasi saat meliput aksi unjukrasa.

Wartawan CNN Indonesia Mengalami Intimidasi

Kapolresta menjelaskan insiden pertama menimpa wartawan CNN Indonesia, Dani Randi, sekitar pukul 19.30 WIB. Insiden itu terjadi di area rubanah Gedung Serbaguna Balee Meuseuraya Aceh (BMA), yang berada di seberang Kantor Gubernur Aceh.

Menurut Dani, sejumlah oknum meminta dirinya menghapus dokumentasi liputan. Selain itu, mereka juga merampas alat kerja saat aksi berlangsung.

“Dari ketiga jurnalis telah kami dengarkan apa yang dialaminya saat aksi unjukrasa penolakan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh,” kata Andi Kirana.

Namun, Kapolresta belum memastikan identitas para oknum tersebut. Polisi juga masih mendalami apakah mereka berasal dari unsur kepolisian atau bukan.

Selanjutnya, salah satu oknum mengenali Dani sebagai wartawan yang sering meliput di Polresta Banda Aceh. Setelah itu, mereka membiarkan Dani pergi.

Dua Wartawan Lain Mengaku Mendapat Tekanan

Selain wartawan CNN Indonesia, dua jurnalis dari AJNN dan RMOL Aceh juga mengaku mengalami tekanan saat meliput demonstrasi.

Kedua wartawan tersebut mengatakan seorang polwan meminta mereka menghapus dokumentasi video di lokasi aksi.

Tidak lama kemudian, seorang perempuan berpakaian preman mendatangi mereka dan meminta rekaman video ikut dihapus.

Namun demikian, Andi Kirana menegaskan seluruh polwan yang bertugas saat pengamanan aksi mengenakan pakaian dinas resmi.

“Polisi wanita yang bertugas saat itu seluruhnya memakai pakaian dinas. Tidak ada yang menggunakan pakaian preman,” ujar Kapolresta.

Kapolresta Minta Maaf kepada Wartawan

Kapolresta Banda Aceh kemudian meminta maaf atas kejadian yang menimpa para jurnalis saat meliput aksi tersebut.

Menurut Andi Kirana, situasi di lapangan mulai tidak terkendali karena aksi berubah ricuh.

Meski begitu, pihaknya tetap berkomitmen mengevaluasi personel yang bertugas selama pengamanan demonstrasi.

Selain itu, Polresta Banda Aceh juga akan memperbaiki pola komunikasi antara aparat kepolisian dan insan pers.

“Jangan ada ketersinggungan antara media dan polisi karena keduanya merupakan mitra kerja,” katanya.

Polisi Terbitkan Arahan untuk Personel

Kapolresta juga mengungkapkan pihaknya telah menerbitkan Petunjuk dan Arahan (Jukrah) kepada seluruh personel.

Melalui arahan tersebut, polisi meminta personel tidak melakukan intimidasi terhadap wartawan maupun humas lembaga saat peliputan berlangsung.

Di sisi lain, Andi Kirana juga mengimbau wartawan agar selalu memakai kartu identitas atau atribut media saat bertugas di lapangan.

Dengan begitu, petugas dapat membedakan wartawan dan massa aksi ketika situasi mulai memanas.

“Tolong gunakan ID Card atau almamater media sehingga petugas dapat mengenali mana wartawan dan mana massa aksi,” tegasnya.

Kapolresta memastikan pihaknya terus menindaklanjuti laporan dugaan intimidasi tersebut. Selain itu, Polresta Banda Aceh juga akan memperkuat evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Example 300250
Example 120x600
Example 468x60
Example 728x250