Scroll untuk baca artikel
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H - PT Midaya Network Group dan PewartaAceh.com
AcehHeadlinePemerintah

Kisah Tiga Srikandi Aceh: Memetik Manisnya Melon hingga Menjelajah Potensi Tempe Koro

11
×

Kisah Tiga Srikandi Aceh: Memetik Manisnya Melon hingga Menjelajah Potensi Tempe Koro

Sebarkan artikel ini
Tiga Srikandi Aceh memanen melon di Gampong Lam Manyang dan meninjau produksi tempe koro di Alue Naga, Kamis (2/4/2026).(Foto: Dok. Humas Aceh)

PewartaAceh | BANDA ACEH — Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, langkah penuh semangat terlihat dari rombongan “Tiga Srikandi Aceh” saat keluar dari Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Kamis (2/4/2026). Mereka adalah Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir, Staf Ahli TP PKK Aceh Mukarramah Fadhlullah, dan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh Malahayati.

Agenda hari itu bukan sekadar kunjungan formal, melainkan misi penguatan ketahanan pangan lokal di dua titik strategis: Gampong Lam Manyang di Kecamatan Peukan Bada dan Gampong Alue Naga di Kecamatan Syiah Kuala.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

Manisnya Melon Sweetnet di Peukan Bada

Destinasi pertama adalah lahan agrowisata seluas setengah hektar di Gampong Lam Manyang. Didampingi Rifat, pendiri Rumah Pangan, ketiga tokoh perempuan Aceh ini terjun langsung memanen melon di antara 3.000 batang tanaman yang tengah produktif.

Ada dua varietas unggulan yang dikembangkan di sini, yakni Inthanon dan Sweetnet. Marlina Muzakir, yang akrab disapa Kak Na, tampak antusias memetik melon Sweetnet yang sudah merekah—tanda kematangan sempurna.

“Mari datang ke kebun melon Gampong Lam Manyang. Petik sendiri dan langsung makan di sini. Pilih melon sweetnet yang sudah sedikit pecah, dijamin rasanya jauh lebih manis,” ujar Kak Na berpromosi.

Selain kualitas rasa, ia juga menyoroti keunggulan harga. Di kebun ini, melon dibanderol Rp30.000 per kilogram, jauh lebih ekonomis dibandingkan harga pasar yang berkisar antara Rp40.000 hingga Rp45.000.

Inovasi Tempe Koro dari Alue Naga

Usai dari kebun melon, rombongan bertolak ke Gampong Alue Naga untuk meninjau Rumah Produksi Pengolahan Tempe Koro. Unit usaha ini merupakan bagian dari binaan Rumah Pangan yang dikelola oleh Rifat, putra asli Aceh lulusan terbaik (Summa Cumlaude) bidang pertanian dari Belanda.

Rifat menjelaskan bahwa unit usaha ini mengelola lima komoditas turunan kacang koro, mulai dari benih, kacang koro krispi, keripik, hingga tempe. Saat ini, total lahan pengembangan kacang koro mencapai 23 hektar yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Aceh.

“Kami menyadari upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dukungan dari Ibu selaku Ketua TP PKK tentu akan sangat membantu pertumbuhan sektor ini,” ungkap Rifat yang memilih mengabdi di tanah kelahiran ketimbang menerima tawaran menjadi dosen di luar negeri.

Dukungan untuk Pemberdayaan Ekonomi

Kunjungan diakhiri dengan diskusi hangat mengenai keberlanjutan sektor pertanian dan pengolahan pangan. Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap ekonomi lokal, rombongan memborong puluhan kilogram melon serta stok tempe koro siap olah.

Langkah Tiga Srikandi Aceh ini menegaskan bahwa sinergi antara figur pimpinan, inovasi pemuda, dan potensi lokal adalah kunci utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri dan berdaya saing di Serambi Mekkah.