Scroll untuk baca artikel
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H - PT Midaya Network Group dan PewartaAceh.com
AcehNewsSyiar

Jerat Thulul Amal: Membedah Fenomena Halusinasi dan Krisis Produktivitas Umat

9
×

Jerat Thulul Amal: Membedah Fenomena Halusinasi dan Krisis Produktivitas Umat

Sebarkan artikel ini

PewartaAceh | Syiar — Fenomena kemunduran sebagian umat hari ini tidak semata disebabkan oleh faktor eksternal, melainkan juga oleh penyakit internal yang kerap luput dari perhatian. Salah satunya adalah thulul amal, yaitu panjang angan-angan tanpa diiringi usaha nyata.

Sifat ini bukan sekadar kelemahan biasa, melainkan penyakit hati yang dapat melumpuhkan potensi seseorang. Ia menjadikan individu gemar berkhayal, namun malas bertindak; banyak berbicara, tetapi minim kontribusi.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

Dalam perspektif Islam, sifat ini telah lama diperingatkan. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga keraslah hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

Rasulullah saw. juga bersabda:

لا يَزالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شابًّا في اثْنَتَيْنِ: في حُبِّ الدُّنْيا وطُولِ الأمَلِ

“Hati orang yang telah tua akan tetap muda dalam dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari no. 6420)

Antara Angan-Angan dan Ikhtiar

Perlu dibedakan secara tegas antara angan-angan dan cita-cita. Angan-angan hanyalah bayangan tanpa realisasi, sedangkan cita-cita menuntut perencanaan, kerja keras, dan keteguhan dalam berikhtiar.

Ketika seseorang terjebak dalam angan-angan, ia cenderung menghindari tanggung jawab. Kemalasan menjadi kebiasaan, sementara kegagalan selalu disandarkan pada orang lain atau keadaan.

Lebih jauh, kondisi ini melahirkan sikap merasa paling benar, sulit menerima nasihat, dan menutup diri dari kebenaran. Dalam jangka panjang, ia membentuk karakter yang lemah, rapuh, dan mudah menyalahkan.

Lingkaran Kemalasan dan Ilusi

Seseorang yang terjebak dalam thulul amal hidup dalam lingkaran yang sulit diputus. Ia berkhayal, tidak bertindak, kemudian kecewa, lalu kembali berkhayal. Siklus ini terus berulang tanpa perubahan berarti.

Padahal, realitas hidup tidak dapat ditaklukkan dengan keluhan atau lamunan. Kebutuhan hidup menuntut usaha, tanggung jawab, dan kesungguhan.

Kelaparan tidak akan hilang dengan khayalan.
Masalah tidak akan selesai dengan keluhan.
Kehidupan tidak akan berubah tanpa tindakan nyata.

Namun demikian, masih banyak yang memilih berdiam diri dalam zona nyaman, menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, bahkan kehilangan rasa tanggung jawab terhadap diri dan keluarga.

Bahaya Kesombongan Tersembunyi

Salah satu dampak paling berbahaya dari thulul amal adalah munculnya kesombongan tersembunyi. Seseorang merasa dirinya paling benar, sementara orang lain dianggap salah.

Sikap ini sejatinya merupakan cerminan sifat iblis yang menolak kebenaran karena kesombongan. Ketika seseorang tidak lagi mampu menerima nasihat, maka ia telah menjauh dari jalan kebenaran.

Kembali kepada Jalan yang Lurus

Islam telah memberikan solusi yang jelas. Jalan kebenaran tidak samar, melainkan terang melalui Al-Qur’an dan Sunnah.

Allah Swt. berfirman:

ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلۡكِتَـٰبُ لَا رَیۡبَۛ فِیهِۛ هُدࣰى لِّلۡمُتَّقِینَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa terdapat banyak jalan yang menyesatkan, dan setiap jalan tersebut memiliki godaan yang menjauhkan manusia dari jalan lurus.

Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk keluar dari penyakit ini adalah dengan kembali kepada ajaran Islam secara utuh, disertai kesungguhan dalam memperbaiki diri.

Saatnya Bangkit dan Bertindak

Mengatasi thulul amal membutuhkan kesadaran dan keberanian. Kesadaran untuk mengakui kelemahan diri, serta keberanian untuk berubah.

Umat tidak membutuhkan lebih banyak angan-angan, tetapi membutuhkan tindakan nyata. Tidak cukup hanya memahami kebenaran, tetapi juga harus mengamalkannya.

Hidup tidak akan menunggu. Waktu terus berjalan tanpa kompromi. Maka, menghancurkan kemalasan, meninggalkan khayalan, dan memulai langkah nyata adalah pilihan yang tidak bisa ditunda.

Penulis: Ust Iwan Setiawan

Editor: PewartaAceh