PewartaAceh | BIREUEN – Pemerintah Aceh terus mengintensifkan kolaborasi dengan kalangan ulama sebagai strategi utama pembangunan berbasis nilai keislaman. Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menegaskan hal tersebut saat bersilaturahmi ke kediaman Tu Amad, putra ulama kharismatik almarhum Abu Tumin Blang Blahdeh, di kompleks Dayah Madinatuddinah Miftahussalam, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, Jumat (1/5/2026).
Anggota DPD RI asal Aceh, Tgk. H. Ahmada, turut mendampingi kunjungan tersebut. Tu Amad dan Tu Haidar menyambut hangat kehadiran Fadhlullah yang akrab disapa Dek Fadh dalam suasana kekeluargaan yang khidmat. Pertemuan ini menjadi ruang dialog strategis untuk memperkukuh posisi dayah sebagai pilar penting pembangunan Aceh.
Fondasi Identitas Aceh
Fadhlullah menyatakan bahwa hubungan harmonis antara ulama dan umara merupakan fondasi utama dalam menjaga identitas serta keistimewaan Aceh. Ia menekankan bahwa sejak masa kesultanan, kedua unsur tersebut selalu berjalan beriringan.
“Sejarah Aceh membuktikan bahwa sinergi ulama dan umara melahirkan kemajuan peradaban. Kita harus terus menjaga dan memperkuat kekuatan ini,” ujar Fadhlullah.
Ia menambahkan bahwa dayah memegang peran multifungsi. Selain menjadi lembaga pendidikan keagamaan, dayah berfungsi sebagai pusat pembinaan moral, sosial, dan kultural masyarakat. Oleh sebab itu, kolaborasi erat antara pemerintah dan ulama menjadi syarat mutlak agar pembangunan daerah tetap berpijak pada nilai syariat Islam dan kearifan lokal.
Kepemimpinan Responsif dan Membumi
Tu Amad mengapresiasi kunjungan tersebut sebagai bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap institusi dayah. Ia berharap komunikasi ini terus berlanjut sehingga memberikan dampak konkret bagi kemaslahatan umat.
Komitmen Dek Fadh dalam menjalin kedekatan dengan masyarakat terlihat dari konsistensinya turun langsung ke lapangan. Ia lebih memilih hadir di tengah warga dan membuka ruang dialog terbuka daripada sekadar mengadakan pertemuan formal di kantor. Dalam setiap agenda, ia menunjukkan gaya kepemimpinan yang responsif dan membumi.
Dedikasi tersebut semakin nyata saat ia meninjau masyarakat terdampak banjir di Aceh Tengah. Meski menghadapi medan menantang hingga mengalami insiden rakit terbalik di kawasan Pameu, Dek Fadh tetap melanjutkan langkahnya. Peristiwa tersebut justru menegaskan komitmennya untuk selalu berdiri bersama masyarakat dalam situasi sulit sekalipun.
Menjangkau Seluruh Wilayah
Melalui rangkaian kunjungan mulai dari pantai barat selatan, pantai timur, hingga kawasan tengah Aceh, Fadhlullah terus membangun komunikasi langsung dengan ulama dan warga. Momentum ini ia manfaatkan untuk memetakan kondisi pembangunan yang masih memerlukan perhatian khusus pemerintah.
Kunjungan di Bireuen ini mempertegas komitmen Pemerintah Aceh dalam merawat hubungan historis ulama dan umara. Langkah ini sekaligus memperkokoh fondasi sosial-keagamaan sebagai kompas utama pembangunan daerah yang berkelanjutan.




















