Scroll untuk baca artikel
AcehHeadlineSyiar

Lawan “Penyakit” Kemalasan: Mengapa Muslim Harus Terus Bergerak dan Berkarya?

3
×

Lawan “Penyakit” Kemalasan: Mengapa Muslim Harus Terus Bergerak dan Berkarya?

Sebarkan artikel ini
Foto AI Ilustrasi seorang Muslim yang produktif dan aktif bekerja sebagai bentuk implementasi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

PewartaAceh | Syiar – Dalam ajaran Islam, gerak adalah tanda kehidupan. Seorang Muslim sejati didefinisikan melalui perjuangan dan kontribusinya, bukan sekadar keberadaan fisiknya. Sebaliknya, sifat malas dipandang sebagai “penyakit” mental yang berbahaya karena sering kali tidak terasa, namun mampu mematikan nilai kebermanfaatan manusia di dunia.

Allah SWT senantiasa mengingatkan hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh dan menjauhi kemalasan. Peringatan ini tercermin kuat dalam untaian mahfuzhat:

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

اِجْهَدْ وَلَا تَكْسَلْ وَلَا تَكُ غَافِلًا # فَنَدَامَةُ العُقْبَى لِمَنْ يَتَكَاسَلُ

“Bersungguh-sungguhlah, jangan malas, dan jangan menjadi lalai; karena penyesalan mendalam adalah milik mereka yang bermalas-malasan.”

Fenomena “Mayat Hidup” di Era Digital

Tanda kehidupan adalah aktivitas. Tanpa perbuatan nyata, seseorang tak ubahnya seperti “mayat hidup”—bernapas namun hatinya mati. Di era modern, kemalasan sering kali “terpelihara” melalui fasilitas teknologi yang disalahgunakan, seperti penggunaan media sosial tanpa batas, kecanduan gim hingga lupa waktu, hingga debat kusir berkepanjangan yang tidak menghasilkan solusi konkret.

Padahal, esensi hidup adalah bergerak dan berkarya dalam segala lini agar saat ajal menjemput, kehidupan kita memiliki nilai di mata Sang Pencipta.

Karakteristik Pemalas: Antara Khayalan dan Realita

Para pemalas cenderung menutupi sikapnya dengan retorika besar yang berangkat dari khayalan tanpa pembuktian. Rasa malas yang dibiarkan akan menjadi zona nyaman yang menyesatkan. Akibatnya, muncul sikap abai terhadap tanggung jawab: malas menempuh pendidikan, malas menafkahi keluarga, hingga malas beribadah (kusala), sebagaimana yang diperingatkan dalam QS. An-Nisa: 142.

Rasulullah SAW sebagai teladan utama (Uswatun Hasanah) memberikan contoh nyata dengan bergerak. Beliau tidak hanya berdakwah di atas mimbar, tetapi turun langsung menjumpai umat dan bertindak nyata hingga akhir hayatnya.

6 Dampak Buruk Memelihara Sifat Malas

Waktu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Membiarkan diri terbelenggu kemalasan akan mengakibatkan:

  1. Mimpi yang Hanya Menjadi Angan: Setiap orang memiliki cita-cita, namun kemalasan hanya akan menjadikannya khayalan kosong yang membunuh waktu. Rasulullah SAW bersabda, “Allah mencintai seorang hamba yang bekerja dan terampil” (HR. Ahmad).

  2. Hilangnya Kesehatan: Kurangnya aktivitas fisik akibat “mager” (malas gerak) berdampak buruk pada kebugaran tubuh. Menjaga kesehatan adalah bagian dari amanah ibadah.

  3. Rentan Cemas dan Stres: Penundaan pekerjaan (prokrastinasi) justru meningkatkan beban pikiran. Tugas yang menumpuk memicu stres yang seharusnya bisa dihindari dengan disiplin.

  4. Hilangnya Peluang dan Kesempatan: Kesempatan jarang datang dua kali. Sifat malas menutup pintu karier dan perkembangan diri karena kompetensi hanya lahir dari kerja keras.

  5. Hidup yang Stagnan: Tanpa upaya belajar dan bergerak, kehidupan seseorang akan jalan di tempat (stuck). Padahal, Islam memerintahkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

  6. Memudarnya Semangat Hidup: Semakin lama bermalas-malasan, semakin sulit bagi seseorang untuk bangkit kembali. Waktu yang terbuang sia-sia perlahan akan membunuh motivasi diri.

Jihad dalam Mencari Kehidupan

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 69, mereka yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan-Nya akan ditunjukkan jalan-jalan keberhasilan. Jihad di sini tidak hanya bermakna sempit, tetapi mencakup perjuangan mencari nafkah yang halal untuk keluarga serta memberikan manfaat terbaik bagi lingkungan sekitar.

Hidup yang bermakna adalah hidup yang meninggalkan jejak kebaikan. Hebat bukan sekadar mampu berucap, melainkan mampu mewujudkan ucapan menjadi perbuatan nyata. Mari jadikan setiap usaha kita sebagai bagian dari ibadah, karena Allah SWT selalu memberkahi langkah hamba-Nya yang bergerak menuju kebaikan.

Penulis: Ust Iwan Setiawan

Editor: PewartaAceh