Scroll untuk baca artikel
Cerita Pinggiran

Di Bawah Kubah Baiturrahman, Sebuah Doa untuk Aceh

79
×

Di Bawah Kubah Baiturrahman, Sebuah Doa untuk Aceh

Sebarkan artikel ini
Di bawah kubah Masjid Raya Baiturrahman, doa untuk Aceh dan Indonesia dititipkan bersama kegelisahan dan harapan masyarakat.

Ketika doa menjadi cermin kegelisahan negeri

Langit Banda Aceh mungkin belum sepenuhnya gelap ketika lampu-lampu Masjid Raya Baiturrahman mulai menerangi halaman. Di bawah kubah dan menara yang menjadi penanda kota itu, orang-orang datang membawa doa masing-masing. Mereka memohon kesehatan, keselamatan keluarga, kelapangan rezeki, serta masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.

Pada 15 Agustus, sebuah doa untuk Aceh dan Indonesia akan mengalir di ruang ibadah tersebut. Doa itu tidak hanya membawa harapan, tetapi juga kegelisahan tentang keadilan, korupsi, kerusakan lingkungan, pembangunan, kebutuhan rakyat, pendidikan, judi online, hingga masa depan sepak bola Indonesia.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

Di antara kalimat-kalimatnya, terselip satu pesan besar: negeri ini membutuhkan perbaikan, dan manusia harus berani bercermin sebelum meminta perubahan.

Doa yang membawa kegelisahan rakyat

Doa tersebut tidak sekadar meminta sesuatu kepada Tuhan. Isinya juga mengajak manusia mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

“Jika kami pernah menzalimi, berikanlah kami kesadaran untuk bertaubat. Jika ada pemimpin yang menyimpang, berikanlah mereka keberanian untuk kembali kepada kebenaran dan amanah.”

Kalimat itu membawa doa keluar dari ruang permohonan pribadi. Ia menyentuh persoalan kehidupan bersama, terutama ketika kekuasaan dan amanah bertemu dengan kepentingan manusia.

Keserakahan, ketidakjujuran, dan penyalahgunaan jabatan menjadi bagian dari kegelisahan tersebut. Doa itu meminta agar siapa pun yang mengambil hak rakyat mendapat hidayah, menyadari kesalahan, lalu mengembalikan hak yang bukan miliknya.

Harapannya sederhana: kekuasaan harus kembali menjadi amanah.

Hukum harus berdiri di atas keadilan

Kegelisahan kemudian bergerak menuju persoalan hukum.

“Jika ada penegak hukum yang melanggar hukum, sadarkanlah mereka. Tegakkanlah keadilan melalui tangan-tangan yang jujur.”

Pesan itu tidak mengarah kepada nama atau kelompok tertentu. Sebaliknya, doa tersebut mengingatkan semua pihak bahwa hukum kehilangan makna ketika manusia menggunakannya secara tidak adil.

Masyarakat membutuhkan penegak hukum yang berani, jujur, dan konsisten. Mereka juga membutuhkan sistem yang tidak membedakan orang berdasarkan jabatan, kekayaan, atau pengaruh.

Keadilan, pada akhirnya, bukan sekadar kata dalam aturan. Masyarakat merasakannya ketika hukum memberi perlindungan yang sama kepada semua orang.

Sungai dan hutan yang ikut menanggung kesalahan manusia

Setelah berbicara tentang kekuasaan dan hukum, doa itu menyentuh alam.

“Sadarkan kami agar tidak merusak alam yang Engkau titipkan kepada kami.”

Sungai, hutan, laut, dan tanah menjadi bagian dari amanah tersebut. Ketika manusia mengambil sumber daya tanpa mempertimbangkan dampaknya, alam ikut menanggung akibatnya.

Pertambangan dan pengelolaan sumber daya alam memang dapat membuka lapangan kerja serta menggerakkan ekonomi. Namun, masyarakat juga membutuhkan lingkungan yang sehat untuk bertahan hidup.

Karena itu, doa tersebut meminta jalan keluar yang adil. Rakyat tetap membutuhkan penghasilan, tetapi kebutuhan hari ini tidak boleh mengorbankan kehidupan generasi mendatang.

Pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak sumber daya yang bisa manusia ambil. Kita juga perlu bertanya apa yang tersisa setelah aktivitas itu berhenti.

Apakah sungai masih mengalir jernih? Apakah hutan masih menjaga keseimbangan alam? Mampukah tanah tetap menopang kehidupan anak cucu?

Doa itu meminta agar manusia menjawab pertanyaan tersebut sebelum semuanya terlambat.

Ketika kebutuhan sehari-hari menjadi kegelisahan

Dari persoalan lingkungan, doa tersebut kembali menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bahan bakar, kebutuhan pokok, makanan, sekolah, dan pembangunan pascabencana mungkin terdengar seperti urusan administrasi. Bagi masyarakat, semua itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih nyata: biaya hidup, kebutuhan keluarga, pendidikan anak, dan harapan korban bencana untuk kembali menjalani kehidupan.

Karena itu, doa tersebut meminta agar masyarakat memperoleh kebutuhan hidup secara layak.

Sistem yang adil dan transparan juga menjadi harapan. Pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan memberi manfaat nyata, terutama bagi masyarakat yang paling membutuhkan.

Doa itu bahkan mengingatkan para pengambil keputusan agar tidak sekadar mengejar angka keberhasilan di atas kertas.

“Jadikanlah setiap program pemerintah benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar untuk memenuhi target atau terlihat berhasil di atas kertas.”

Pembangunan akhirnya bukan sekadar tentang jumlah program yang selesai. Ukuran yang lebih penting terletak pada perubahan kehidupan masyarakat setelah program tersebut berjalan.

Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar makanan

Persoalan pendidikan mendapat tempat khusus dalam doa itu.

Makanan bergizi memang penting bagi pertumbuhan anak. Namun, anak-anak juga membutuhkan sekolah yang aman, ruang belajar yang layak, guru yang mendapat penghargaan, serta lingkungan pendidikan yang sehat.

Satu program tidak dapat berdiri sendiri ketika pemerintah ingin membangun generasi masa depan. Anak yang memperoleh makanan bergizi tetap membutuhkan ruang kelas yang aman. Sekolah yang bagus pun membutuhkan guru berkualitas dan dukungan keluarga.

Masa depan anak-anak lahir dari rangkaian kebutuhan yang saling berkaitan.

Karena itu, doa tersebut mengajak pemerintah melihat pembangunan secara utuh. Pendidikan bukan hanya tentang angka partisipasi atau jumlah bantuan, tetapi tentang kesempatan setiap anak untuk belajar dalam kondisi yang layak.

Menjauhkan generasi dari jalan pintas

Kegelisahan berikutnya menyentuh ancaman judi online.

Doa tersebut meminta perlindungan bagi anak-anak dan keluarga dari kecanduan, keserakahan, serta godaan memperoleh uang melalui jalan pintas.

Masalah itu tidak hanya menyangkut uang. Kecanduan juga dapat mengganggu hubungan keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan masa depan seseorang.

Karena itu, masyarakat membutuhkan lingkungan yang mampu membantu generasi muda mengenali risiko dan memilih jalan yang lebih sehat.

Harapan tersebut kemudian meluas ke bidang yang sangat dekat dengan anak muda: sepak bola.

Sepak bola dan mimpi generasi muda

Sepak bola Indonesia juga masuk dalam doa.

Doa tersebut meminta kejernihan bagi pengurus, pelatih, pemain, dan semua pihak yang ikut menentukan arah sepak bola nasional. Mereka diharapkan mampu menempatkan kepentingan olahraga dan masa depan pemain di atas ego maupun kepentingan pribadi.

“Jadikan prestasi bukan sekadar kebanggaan sesaat, tetapi hasil dari pembinaan yang konsisten, profesional, dan berkelanjutan.”

Kalimat itu membawa pesan yang lebih luas. Prestasi tidak lahir secara instan. Sebuah sistem membutuhkan pembinaan, kesabaran, profesionalisme, dan keputusan yang konsisten.

Begitu pula dengan pembangunan negeri.

Tidak cukup menghadirkan hasil yang terlihat hari ini jika prosesnya tidak menyiapkan masa depan.

Sebelum meminta perubahan, manusia perlu bercermin

Pada bagian akhir, doa tersebut kembali kepada manusia.

“Jika kami salah, tunjukkan kesalahan kami. Jika kami zalim, lembutkan hati kami untuk bertaubat. Jika kami serakah, cukupkan hati kami dengan rezeki yang halal.”

Pesan itu menjadi salah satu bagian terkuat dalam keseluruhan doa. Ia tidak hanya menunjuk kepada pemerintah, penegak hukum, atau orang lain. Ia mengajak setiap orang memeriksa dirinya sendiri.

Sebab perubahan negeri tidak hanya bergantung pada mereka yang memegang jabatan. Rakyat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kejujuran, menaati aturan, merawat lingkungan, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Aceh yang diharapkan dalam doa tersebut adalah negeri yang aman, bersih, adil, sejahtera, dan bermartabat. Indonesia yang diimpikan juga memiliki pemimpin yang amanah, hukum yang adil, rakyat yang beradab, alam yang terjaga, serta pembangunan yang benar-benar memberi manfaat.

Pada 15 Agustus nanti, doa itu akan menemukan ruangnya di Masjid Raya Baiturrahman.

Tidak semua persoalan tentu selesai setelah suara amin menggema. Doa tidak menggantikan kerja, kebijakan, pengawasan, atau keberanian untuk memperbaiki kesalahan.

Namun, doa dapat mengingatkan manusia tentang arah yang ingin mereka tuju.

“Ya Allah, jangan hukum kami karena kesalahan orang-orang yang zalim di antara kami. Berikan kami kesempatan untuk memperbaiki negeri ini bersama-sama.”

Kalimat itu mungkin akan tinggal lebih lama setelah doa berakhir.

Di antara gema suara dan langkah orang-orang yang meninggalkan masjid, harapan tersebut kembali kepada manusia. Mereka harus menjaga Aceh, menjaga Indonesia, dan menjalankan amanah yang Tuhan titipkan.

Sebab negeri yang baik tidak hanya lahir dari doa yang panjang. Negeri yang baik tumbuh ketika manusia berani mengubah doa menjadi kejujuran, kepedulian, dan tindakan nyata.

Riazul Iqbal, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aktif dalam kegiatan Literasi.