Mulyono masih menyimpan foto itu di laci meja. Bukan dalam bingkai, bukan di dinding—hanya terlipat rapi di antara tagihan listrik yang sudah lunas dan struk belanja yang tak ada artinya lagi. Setiap malam, tanpa ia sadari, tangannya mencari laci itu. Bukan untuk membuka. Hanya untuk memastikan foto itu masih ada.
Perempuan itu sudah lama pergi. Ia menikahi pria lain yang hidupnya lebih tertata dan finansinya lebih mapan. Namun bagi Mulyono, kepergian itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia berlarut dalam sunyi yang menggerogoti hari demi hari, hingga tubuhnya pun mulai mengirimkan sinyal peringatan lewat penyakit yang datang tanpa diundang.
Ketika Masa Lalu Menolak Pamit
Move on—dua kata yang terdengar mudah diucapkan, namun jauh lebih sulit dijalani. Secara harfiah, move on berarti melanjutkan hidup: berdamai dengan masa lalu, meninggalkan penyesalan, dan melangkah tanpa terus menoleh ke belakang. Meskipun demikian, bagi sebagian orang, masa lalu adalah kamar yang pintunya tidak pernah mereka tutup.
Mulyono bukan satu-satunya. Selain dia, ada Muldoko, yang mewarisi toko pecah belah milik ayahnya—sebuah usaha sederhana yang sudah puluhan tahun berdiri. Alih-alih melanjutkan warisan itu, ia bermimpi mengubahnya menjadi kafe modern. Namun impian itu buyar ketika tubuhnya sendiri menolak irama malam yang menjadi nyawa sebuah kedai kopi. Kafenya tutup. Oleh karena itu, Muldoko terpaksa beralih ke pekerjaan serabutan, membawa wajah yang tak lagi mudah tersenyum.
“Saya kira bisa mengubah semuanya. Tapi rupanya tidak semua warisan bisa kita putar balik begitu saja,” ujar Muldoko, pria paruh baya yang kini berjualan keliling di pinggiran kota.
Lain lagi kisah Sarimin. Berbeda dari kebanyakan orang, ia justru cerdik membaca peluang—ia membangun kafe di tepi pantai, jauh dari keramaian jalan utama yang sudah penuh sesak. Pengunjung berdatangan. Nama warungnya mulai orang kenal. Namun, tepat ketika segalanya terasa mulai tumbuh, pemilik tanah datang mengetuk pintu. Tanah itu kini menjadi dapur program Makan Bergizi Gratis, dan Sarimin harus melangkah mundur dari mimpinya sendiri.
Bangkrut Tidak Selalu Berarti Kalah
Di sudut kota lain, Stadion Kopi pernah menjadi tempat anak-anak muda menyeduh malam-malam panjang mereka. Pak Mustape, sang pemilik, merasa percaya diri ketika pihak bank menawarkan kredit ekspansi. Dua pintu tambahan, ruang lebih luas—keuntungan yang tampak menggoda di atas kertas. Namun kafe-kafe baru bermunculan seperti jamur: lebih estetis, lebih dekat kampus, dan lebih mengerti selera mahasiswa kekinian. Dengan demikian, Mustape tidak mampu menutup sewa. Ia memilih menghilang, melarikan diri dari tagihan dan dari dirinya sendiri.
Keempat kisah ini bukan tentang kegagalan semata. Terlebih lagi, kisah-kisah ini mencerminkan jebakan yang paling manusiawi: menolak melepaskan. Ketika seseorang terlalu lama memeluk kesedihan, waktu tidak ikut berhenti—ia terus mengalir, dan orang yang diam itu justru semakin tertinggal.
Separuh Napas pun Masih Bisa Hidup
Menariknya, tidak semua cerita berakhir di sana. Sarimin kini membuka kafe baru di kota lain yang lebih ramai dan menjanjikan. Ia mempertahankan nama kafenya—sebuah cara untuk membawa yang terbaik dari masa lalu, bukan menguburnya. Di sisi lain, yang membedakan kali ini adalah martabak ala kampungnya yang tersohor, dan justru itulah yang menjadi daya tarik paling otentik di kota barunya.
“Saya tidak melupakan yang lama. Saya membawa yang terbaik dari sana ke sini,” kata Sarimin, dengan tangan masih berbau adonan tepung yang baru ia ulen.
Pada dasarnya, move on bukan berarti kita melupakan segalanya hingga menjadi orang asing bagi diri sendiri. Sebaliknya, move on berarti memilih—memilih untuk tidak membiarkan masa lalu menjadi penjara. Selain itu, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan manusia bertingkat: setelah kesusahan, Allah niscaya mendatangkan kemudahan. Itu bukan janji kosong, melainkan hukum alam yang sudah berlaku jauh sebelum manusia mulai mencatatnya.
Petuah Orang Aceh yang Tak Lekang Waktu
Orang Aceh punya cara sendiri untuk mengungkapkan hal ini. Pat ujeun yang han pirang, pat prang yang hana reuda—di mana ada hujan yang tak reda, di mana ada perang yang tak berakhir? Artinya: tidak ada kesulitan yang abadi. Tak hanya itu, setiap badai pasti memberi jalan kepada langit yang kembali biru.
Selain petuah itu, ada juga ungkapan Han na meu grek-grek, na meu gruk-gruk—tidak ada yang sedikit, pasti ada yang banyak. Sementara itu, petuah paling praktis yang masih relevan hingga hari ini berbunyi: Meugrak jaroe, meu ek igoe—terus gerakkan tangan, niscaya hidup naik derajatnya.
Malam ini, mungkin Mulyono masih membuka laci itu. Tangannya mencari foto yang terlipat di antara struk dan tagihan lama. Namun mungkin—hanya mungkin—malam ini ia meletakkannya sedikit lebih jauh ke dalam. Satu sentimeter saja sudah cukup sebagai awal. Pada akhirnya, berdamai dengan masa lalu tidak pernah terjadi dalam satu malam yang dramatis. Ia datang perlahan, seperti fajar—tanpa pengumuman, tanpa tepuk tangan. Namun ia pasti datang, bagi siapa saja yang mau terus melangkah.[Riazul Iqbal]















