Scroll untuk baca artikel
Cerita Pinggiran

Ketika Piala Dunia Menjadi Obat: Euforia Nonton di Aceh

48
×

Ketika Piala Dunia Menjadi Obat: Euforia Nonton di Aceh

Sebarkan artikel ini

Pukul 02.30 dini hari. Layar televisi di sudut warkop itu berpendar kebiruan. Cahayanya memantul ke wajah-wajah yang menolak tidur. Kopi hitam mengepul. Kursi plastik berderet rapat. Seseorang berteriak, seseorang lainnya mendekap kepala, dan satu lagi hanya diam — matanya lekat pada lapangan hijau ribuan kilometer dari Banda Aceh. Di luar, angin malam bertiup dingin, tapi tak ada yang beranjak.

Begitulah Piala Dunia tiba di Aceh. Bukan lewat undangan resmi. Bukan dengan karpet merah. Ia datang diam-diam — melalui kabel antena, sinyal internet, dan aroma kopi yang selalu siap menemani begadang.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

Bola adalah Cerita Nyata

Ada alasan sederhana mengapa jutaan orang rela membalik jadwal tidur mereka. Sebab sepakbola tidak bisa kita manipulasi naskahnya, tidak seperti drama Korea atau film Hollywood. Tidak ada sutradara yang bisa memerintahkan gol terjadi di menit ke-90. Tidak ada penulis yang bisa menjamin happy ending.

Justru itulah yang membuatnya luar biasa. Kita menyaksikan kemenangan dan kejatuhan sebuah bangsa hanya dalam dua kali 45 menit. Endingnya nyata. Siapa pun bisa menyaksikannya langsung — tanpa teks berjalan, tanpa spoiler.

Dari Warkop ke Warkop: Ritual yang Tak Pernah Padam

Bagi generasi yang tumbuh di Aceh pada era 1990-an dan 2000-an, Piala Dunia bukan sekadar turnamen. Ia adalah momen komunal. Setiap empat tahun sekali, pendukung dari berbagai usia berkumpul di warkop desa. Mereka berdesakan di depan televisi tabung dan berteriak dalam satu suara. Bahkan tidak sedikit yang sengaja membuka usaha warkop khusus saat Piala Dunia. Alasannya sederhana: setiap malam pasti ramai.

Selain itu, peta dukungan pun terbagi dengan cara yang unik. Pendukung Brasil, Argentina, Belanda, Spanyol, Jerman, Inggris, dan Portugal tersebar di mana-mana. Masing-masing membawa argumennya sendiri — ada yang jatuh hati karena pemain andalannya, ada pula yang setia hanya karena suka warna jerseynya. Sementara itu, tim-tim Asia seperti Jepang, Korea, Iran, Irak, dan Arab Saudi juga punya tempat di hati penonton Aceh. Banyak yang mendukung mereka atas nama solidaritas satu rumpun dan satu benua. Begitu pula Mesir dan Maroko — mereka mendapat dukungan dengan alasan lebih dalam: kesamaan iman.

Dua Legenda di Ujung Senja

Piala Dunia kali ini membawa beban emosional yang lebih berat. Di Aceh, nama Messi sudah seperti agama bagi pendukung Argentina sejak era Maradona. Akibatnya, para millennial yang dulu menangis bahagia saat Argentina mengangkat trofi kini menyaksikan momen paling menyentuh. Sang legenda mungkin berjalan di bawah lampu sorot untuk terakhir kalinya.

Kemudian ada Ronaldo — “Cek Do” bagi penggemarnya di Aceh. Ia bahkan pernah menginjakkan kaki langsung di bumi Serambi Mekkah. Di usianya yang akan menyentuh 46 tahun pada Piala Dunia berikutnya, ia tetap hadir dengan ego tinggi. Napsu bermainnya tampaknya tak akan padam sampai raga melarang. Karena itu, Piala Dunia ini boleh jadi merupakan prime time terakhirnya.

Namun di sisi lain, tongkat estafet kini berpindah ke tangan generasi baru. Arda Güler tampil dingin dan klinis. João Neves membaca ruang dengan kecerdasan yang melampaui usianya. Jamal Musiala mendribel seolah berdansa. Lamine Yamal membuktikan bahwa usia belasan tahun bukan halangan untuk membuat bek senior kewalahan. Nico Paz datang seperti angin segar dari selatan. Pertanyaannya kini bukan soal bakat — melainkan apakah dunia sudah siap menyambut era baru ini.

Jadwal Baru untuk Generasi Baru

Ada yang berubah dari Piala Dunia kali ini. Rentang waktu pertandingan — dari tengah malam hingga pagi — menciptakan dinamika sosial yang tidak biasa. Sebagai contoh, para ASN harus memilah antara semangat dan tanggung jawab. Kopi pagi mereka kini terpaksa menemani kantuk sisa begadang.

Sebaliknya, bagi para morning person, ini justru kabar gembira. Pertandingan Brasil dan Maroko di hari Minggu misalnya bisa dinikmati setelah salat subuh. Cukup dengan cahaya pagi yang menyelinap di balik tirai dan secangkir teh hangat di tangan. Dengan demikian, begadang bukan lagi satu-satunya cara menikmati pesta sepakbola terbesar di dunia.

Waspadai Ular di Kamp Latihan

Tentu saja, pesta akbar ini bukan tanpa cacat. Sebelum turnamen memanas, berbagai kabar kurang sedap sudah lebih dulu berhembus. Prosedur keamanan di bandara menyulitkan atlet dan awak media. Fasilitas latihan Jepang hanya setara lapangan antarkampung. Lebih jauh lagi, seekor ular berbisa bahkan muncul di kamp latihan timnas Swiss. Pertandingan pembuka pun dimulai dengan tiga kartu merah — seolah wasit ingin membuktikan bahwa drama bukan monopoli layar kaca Korea.

Meski demikian, bola itu bulat. Keajaiban selalu menemukan jalan dari celah yang paling sempit. Korea Selatan membuktikannya — membalik ketertinggalan dan mengalahkan Ceko dengan cara yang dramatis, seperti memang sudah menjadi karakter bangsa itu.

Dan di tengah semua itu — di tengah harga BBM yang naik dan kekonyolan yang terus aparatur negara pertontonkan — Piala Dunia hadir seperti jeda yang kita butuhkan. Bukan pelarian yang memalukan. Melainkan hak semua orang untuk sejenak menghela napas, memilih tim jagoan, dan berteriak sekeras-kerasnya tanpa ada yang melarang.


Di warkop itu, saat peluit panjang berbunyi, seseorang berdiri dan mengangkat tangannya ke langit-langit. Kopinya sudah dingin. Matanya merah. Tapi senyumnya tak terbendung. Sebab bola, sekali lagi, sudah melakukan tugasnya: mengumpulkan manusia-manusia yang terpencar, memberi mereka satu cerita yang sama, dan membuktikan bahwa dunia bisa sesederhana ini — menang atau kalah, tertawa atau menangis, bersama.

[Riazul Iqbal]