Pewarta Aceh | BANDA ACEH – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Banda Aceh menggandeng Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri untuk menggelar sosialisasi bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Kegiatan berlangsung di Aula BBPOM Aceh. Program ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan aparatur terhadap penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan, terutama di ruang digital.
Sebanyak 125 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas pegawai BBPOM Aceh, anggota Dharma Wanita Persatuan, dan anggota SAKA POM BBPOM Aceh. Melalui kegiatan ini, peserta memperkuat pemahaman mengenai toleransi dan persatuan.
Peserta juga mempelajari berbagai bentuk ancaman ideologi. Dengan demikian, mereka dapat mengenali penyebaran paham radikal lebih dini. Pengetahuan tersebut sekaligus mendukung pelaksanaan tugas sebagai aparatur negara.
Densus 88 Soroti Ancaman di Era Digital
Pelaksana Harian Kepala Satuan Tugas Wilayah Densus 88 Wilayah Aceh, AKBP Wisnoe Goentoro Tjahjono, memaparkan perkembangan ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di Indonesia. Menurutnya, keempat fenomena itu saling berkaitan. Karena itu, seluruh pihak perlu memperkuat langkah pencegahan sejak dini.
Ia menjelaskan bahwa literasi digital, wawasan kebangsaan, dan sikap toleransi menjadi benteng utama. Selain itu, masyarakat juga perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Langkah tersebut membantu mencegah penyebaran paham radikal.
AKBP Wisnoe juga mengingatkan bahwa pelaku semakin aktif memanfaatkan media sosial dan permainan daring. Mereka menyebarkan propaganda, ideologi, bahkan merekrut anggota melalui platform digital. Oleh sebab itu, aparatur pemerintah harus menggunakan media digital secara bijak. Mereka juga harus mampu mengenali informasi yang mengarah pada intoleransi maupun radikalisme.
BBPOM Aceh Perkuat Integritas Aparatur
Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, menegaskan bahwa penguatan wawasan kebangsaan menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang profesional dan berintegritas.
“Dalam menjalankan tugas pengawasan obat dan makanan, Balai Besar POM di Banda Aceh senantiasa berkomitmen memberikan pelayanan yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat. Oleh karena itu, lingkungan kerja yang aman, kondusif, serta bebas dari pengaruh paham radikal dan terorisme merupakan fondasi penting dalam mendukung pelaksanaan tugas tersebut,” kata Riyanto, Kepala BBPOM Aceh.
Setelah penyampaian materi, panitia membuka sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta membahas ancaman intoleransi dan radikalisme di era digital. Mereka juga bertukar pandangan mengenai langkah pencegahan di lingkungan keluarga, masyarakat, dan tempat kerja.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Bahkan, banyak peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan pengalaman. Hal itu menunjukkan tingginya kepedulian terhadap penguatan nilai kebangsaan.
Pada akhirnya, BBPOM Aceh berharap seluruh pegawai, keluarga besar BBPOM Aceh, dan anggota SAKA POM terus memperkuat sikap toleransi. Dengan begitu, mereka dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman, harmonis, dan bebas dari pengaruh intoleransi, radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme. Upaya tersebut juga mendukung pengawasan obat dan makanan secara profesional serta meningkatkan perlindungan bagi masyarakat.















