Pewarta Aceh | ACEH JAYA — Sebanyak 210 peserta pelatihan perkebunan sawit mengunjungi Kebun Batee Puteh PT Agro Sinergi Nusantara (ASN), Aceh Jaya. Kegiatan berlangsung Kamis, 10 September 2026, sebagai bagian dari kunjungan lapang Pelatihan Gelombang 2 Aceh.
Rombongan berangkat dari Banda Aceh menuju Desa Pasie Timon, Kecamatan Teunom. Peserta berasal dari enam kelas dengan 30 orang per kelas. Setiap kelas juga mendapat pendampingan lima panitia.
Peserta berangkat dari Hotel Mekkah dan Hotel Grand Nanggroe sekitar pukul 06.30 WIB. Rombongan menempuh perjalanan sekitar empat jam menuju lokasi kunjungan.
Panitia menggunakan kendaraan Hi-Ace berkapasitas 10–11 orang. Pilihan kendaraan mempertimbangkan kondisi jalan menuju kawasan pantai barat Aceh.
Peserta Mengamati Kondisi Tanaman Sawit
Rombongan tiba sekitar pukul 10.30 WIB. Tim PT ASN menyambut peserta di Kebun Batee Puteh.
Estate Manager PT ASN Zuhri Pradana bersama Kepala Kebun Yudi Irfansyah menerima rombongan. Asisten Kebun Bima, Koko Lesmana dari bagian HRD dan Umum, serta tim PT ASN turut mendampingi kegiatan.
Kegiatan diawali sambutan dari pihak PT ASN dan Direktur Operasional BPI. Pihak PT ASN kemudian memperkenalkan profil perusahaan kepada peserta.
PT ASN berdiri pada 2011 melalui penggabungan PTPN 1 Aceh dan PTPN 4 Medan. Perusahaan tersebut mengelola empat kebun dan satu pabrik kelapa sawit.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas pengolahan 30 ton tandan buah segar per jam. Total areal kebun mencapai 11.600 hektare, terdiri atas 9.600 hektare tanaman menghasilkan dan 2.000 hektare tanaman belum menghasilkan.
Peserta kemudian menuju titik kunjungan pertama di sekitar mess kebun. Di lokasi itu, mentor menjelaskan proses budidaya hingga menghasilkan tandan buah segar (TBS).
Praktik Mengenali Buah dan Kondisi Tanaman
Yudi Irfansyah menjelaskan sejumlah faktor yang memengaruhi produksi TBS. Peserta juga mengamati langsung kondisi buah pada tanaman sawit.
Mereka memeriksa jenis bibit dengan membelah brondolan yang jatuh. Praktik tersebut menunjukkan karakteristik varietas tenera yang ditanam di kebun.
Peserta juga mempraktikkan penghitungan songgo pada tanaman sawit. Metode tersebut membantu menentukan kecukupan pelepah berdasarkan jumlah pelepah di bawah buah matang.
Baca Juga: Setelah Sukses Melaksanakan Pelatihan di Riau dan Sumbar, BPDP dan BPI kembali melatih Petani sawit di provinsi Aceh tentang Budidaya kelapa sawit yang berkelanjutan
Tanaman pada titik pertama menggunakan metode panen egrek satu stik. Tim lapangan menjelaskan bahwa kondisi tersebut menggunakan acuan songgo dua.
Peserta kemudian mengamati daun dan pelepah tanaman. Pengamatan bertujuan mengenali gejala kekurangan unsur hara serta serangan hama dan penyakit.
Hasil pengamatan lapangan menunjukkan kondisi kebun secara umum tidak memperlihatkan gejala defisiensi hara. Tim juga tidak menemukan serangan hama dan penyakit tanaman dalam pengamatan tersebut.
Belajar Menentukan Buah Siap Panen
Pada sesi berikutnya, peserta mempelajari perkembangan buah kelapa sawit. Tahapannya mencakup bunga betina, buah cengkeh, buah mentah, buah mengkal, buah matang, hingga buah lewat matang.
Setiap tahap memiliki karakteristik berbeda terhadap kualitas buah. Peserta mendapat penjelasan mengenai waktu panen yang sesuai dengan tingkat kematangan buah.
Tim lapangan menjadikan brondolan alami sebagai salah satu indikator kematangan buah. Brondolan yang jatuh di piringan membantu pekerja menentukan posisi buah yang siap dipanen.
Pada titik kedua, peserta mempraktikkan teknik pemanenan buah sawit. Mereka terlebih dahulu mengamati brondolan pada piringan sebelum menentukan buah yang akan dipanen.
Peserta juga mempelajari pentingnya menjaga kebersihan piringan. Kondisi piringan yang bersih memudahkan pekerja menemukan brondolan yang jatuh.
Peserta Pelajari Pengendalian Gulma
Materi kunjungan juga mencakup pengendalian gulma di perkebunan sawit. Peserta mendapat penjelasan mengenai jenis gulma yang dapat dipertahankan dan jenis yang perlu dikendalikan.
Tim PT ASN turut menjelaskan pengelolaan tutupan lahan menggunakan tanaman hijauan. Materi tersebut mencakup area yang perlu tertutup vegetasi dan bagian yang harus tetap terbuka.
Setelah sesi lapangan, peserta beristirahat, menunaikan salat, dan makan siang. Kegiatan kemudian berlanjut dengan diskusi dan penutupan di depan mess kebun.
Rangkaian kunjungan lapang berakhir setelah peserta dan panitia berpamitan kepada tim PT ASN. Rombongan kemudian kembali menuju Banda Aceh.









