Scroll untuk baca artikel
Aceh Jaya

PT Agro Sinergi Nusantara Bantu Pekebun Sawit Aceh Tingkatkan Kompetensi Pelatihan dari BPDP dan BPI.

78
×

PT Agro Sinergi Nusantara Bantu Pekebun Sawit Aceh Tingkatkan Kompetensi Pelatihan dari BPDP dan BPI.

Sebarkan artikel ini
Peserta Pelatihan Gelombang 9 Aceh mempelajari teknik budidaya dan perawatan kelapa sawit di Kebun Batee Puteh, PT Agro Sinergi Nusantara, Aceh Jaya.

Pewarta Aceh | ACEH JAYA – PT Agro Sinergi Nusantara (ASN) berbagi pengetahuan budidaya kelapa sawit kepada peserta Pelatihan Gelombang 9 Aceh. Kegiatan dari BPDP dan BPI ini berlangsung di Kebun Batee Puteh, Desa Pasie Timon, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya, Kamis (24/9/2026). Melalui kunjungan lapang tersebut, peserta mempelajari teknik perawatan tanaman, pemanenan tandan buah segar (TBS), serta deteksi dini hama dan penyakit.

Rombongan peserta berangkat dari Hotel Ayani dan Hotel Grand Nanggroe pada pukul 06.10 WIB. Mereka menempuh perjalanan sekitar empat jam menuju lokasi menggunakan tiga unit mobil HiAce untuk setiap kelas pelatihan.

PENYALUR PERLENGKAPAN OUTBOUND & ADVENTURE EQUIPMENT

Rute menuju pesisir barat Aceh melewati kawasan Gunung Paro, Gunung Kulu, dan Gunung Geurutee. Kondisi jalan yang berkelok, menanjak, menurun, dan relatif sempit menjadi pertimbangan pemilihan kendaraan.

Rombongan tiba di Kebun Batee Puteh sekitar pukul 10.10 WIB. Estate Manager PT ASN, Zuhri Pradana, bersama Asisten Afdeling II, Ade, dan tim kebun menyambut kedatangan peserta.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari perwakilan PT ASN dan Direktur Operasional BPI. Zuhri menjelaskan profil perusahaan sekaligus menyampaikan kesiapan timnya untuk berbagi pengalaman pengelolaan perkebunan.

Peserta Pelajari Pengelolaan Kebun Sawit

Zuhri menjelaskan bahwa PT ASN berdiri pada 2011 melalui penggabungan PTPN I Aceh dan PTPN IV Medan. Perusahaan tersebut mengelola empat kebun dan satu pabrik kelapa sawit (PKS) berkapasitas 30 ton per jam.

Total luas kebun mencapai 11.600 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 9.600 hektare merupakan tanaman menghasilkan (TM), sedangkan 2.000 hektare lainnya berupa tanaman belum menghasilkan (TBM).

Setelah pembukaan, peserta menuju titik pembelajaran di sekitar mess kebun. Zuhri dan Ade bertindak sebagai mentor selama kegiatan lapangan berlangsung.

Materi awal membahas pentingnya penggunaan benih kelapa sawit berkualitas. Peserta mempelajari varietas tenera yang memiliki karakteristik cangkang relatif tipis dan mesokarp tebal.

Karakteristik tersebut mendukung produksi minyak sawit. Peserta juga memeriksa buah yang jatuh di piringan untuk mengenali ciri varietas tenera melalui praktik langsung.

Teknik Panen dan Pemeliharaan Tanaman

Mentor kemudian menjelaskan faktor yang memengaruhi jumlah TBS pada setiap pohon. Peserta mengamati kondisi tanaman sekaligus mempraktikkan cara menghitung songgo atau pelepah penyangga tandan buah.

Pada titik pengamatan pertama, pekerja memanen sawit menggunakan egrek dengan satu batang sambungan. Mentor menjelaskan bahwa songgo dua menjadi acuan ideal untuk kondisi panen yang diamati.

Peserta juga mempelajari tahapan perkembangan buah. Tahapan itu meliputi bunga betina, buah cengkeh, buah mentah, buah mengkal, buah matang, hingga buah lewat matang.

Baca Juga: PT Agro Sinergi Nusantara, Bersinergi Positif dengan BPI DAN BPDP untuk Memajukan Perkebunan Sawit di Aceh.

Setiap fase berpengaruh terhadap mutu hasil panen. Mentor menjelaskan bahwa pekebun perlu memperhatikan tingkat kematangan buah sebelum memanen TBS.

Buah matang yang mulai membrondol secara alami menjadi salah satu indikator panen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa buah telah mencapai tingkat kematangan yang sesuai untuk dipanen.

Kegiatan berlanjut dengan pemeriksaan daun dan pelepah. Peserta mengamati gejala kekurangan unsur hara serta tanda serangan hama dan penyakit tanaman.

Deteksi Dini Hama dan Pengendalian Gulma

Peserta menerapkan prinsip Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini dengan memeriksa akar, batang, pelepah, daun, dan buah sawit. Pemeriksaan ini membantu pekebun mengenali potensi gangguan tanaman sejak awal.

Dari pengamatan di lapangan, kondisi kebun secara umum tidak menunjukkan gejala kekurangan unsur hara. Peserta juga menemukan beberapa pelepah tua dengan bekas lubang akibat serangan kumbang tanduk.

Namun, pelepah baru tidak menunjukkan bekas serangan serupa. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pengendalian kumbang tanduk di kebun telah memberikan hasil.

Mentor juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan piringan di sekitar batang sawit. Area yang bersih memudahkan pekerja menemukan brondolan sekaligus membantu mendeteksi keberadaan hama.

Peserta mempelajari pengendalian gulma dan pengelolaan vegetasi penutup tanah. Mereka mengenali jenis gulma yang perlu dikendalikan serta tanaman penutup yang membantu menjaga kelembapan tanah.

Materi tersebut juga mencakup pengenalan potensi gangguan dari ulat api, tikus, kumbang tanduk, dan penyakit busuk pangkal batang akibat Ganoderma. Pemantauan rutin menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tanaman dan produktivitas kebun.

Kunjungan Lapang Ditutup dengan Diskusi

Setelah istirahat, salat, dan makan siang, peserta kembali berkumpul di depan mess kebun. Mereka mengikuti sesi diskusi dan penutupan bersama tim PT ASN.

Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungkan materi pelatihan dengan praktik pengelolaan kebun secara langsung. Peserta juga dapat mengamati penerapan pemeliharaan tanaman dan pengendalian hama di lapangan.

Rombongan BPI kemudian berpamitan dengan tim PT Agro Sinergi Nusantara sebelum kembali ke Banda Aceh. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran pekebun sawit Aceh untuk meningkatkan keterampilan budidaya dan pengelolaan usaha perkebunan.