Scroll untuk baca artikel
Sejarah & Budaya

Sebelum Hilang dari Ingatan, Aceh Perlu Menceritakan Sejarahnya Sendiri Melalui Film

244
×

Sebelum Hilang dari Ingatan, Aceh Perlu Menceritakan Sejarahnya Sendiri Melalui Film

Sebarkan artikel ini
Film sejarah dapat menjadi arsip visual untuk menjaga ingatan tentang perjalanan Aceh, tokoh, konflik, budaya, dan perdamaian.

Sebelum Hilang dari Ingatan, Aceh Perlu Memfilmkan Sejarahnya

Oleh: Muhammad Yusuf Bombang (Apa Kaoy)
Seniman dan Budayawan Aceh

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu yang tersimpan dalam buku. Masyarakat juga membutuhkan cara untuk terus mengingatnya.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

Generasi hari ini tumbuh dalam budaya visual yang sangat kuat. Mereka mengenal banyak pengetahuan melalui film, video, dokumenter, dan media sosial.

Kondisi itu membuka pertanyaan penting bagi Aceh. Mengapa Aceh belum memiliki rangkaian film yang menceritakan sejarahnya secara utuh?

Gagasan tersebut bukan sekadar membuat film tentang satu tokoh. Aceh membutuhkan rangkaian karya yang merekam perjalanan sejarahnya secara kronologis.

Film itu perlu menghadirkan konteks, manusia, peristiwa, serta berbagai sudut pandang. Pendekatan tersebut dapat membantu generasi muda memahami sejarah tanpa menyederhanakannya.

Tjoet Nja’ Dhien Pernah Membuka Jalan

Aceh sebenarnya pernah menghadirkan sejarahnya melalui sinema. Salah satu karya penting tersebut ialah Tjoet Nja’ Dhien (1988).

Film biografi itu mengangkat perjuangan pahlawan perempuan Aceh, Tjoet Nja’ Dhien. Erros Djarot menyutradarai film tersebut dengan Christine Hakim sebagai pemeran utama.

PT Kanta Indah Film memproduksi karya tersebut. Alwin Abdullah, Alwin Arifin, dan Sugeng Djarot tercatat sebagai produsennya.

Film itu meraih Piala Citra sebagai Film Terbaik pada Festival Film Indonesia 1988.

Proses pembuatannya juga menyimpan cerita pengorbanan. Christine Hakim pernah menuturkan pengalamannya terkait produksi film tersebut.

Ia bersama Slamet Rahardjo tidak menerima bayaran untuk film itu. Proses syuting bahkan berlangsung hingga tiga tahun.

Keterbatasan dana sempat menghentikan produksi. Kru dan pemain kemudian melanjutkan pekerjaan ketika dana kembali tersedia.

Komitmen mereka menunjukkan satu hal penting. Film sejarah membutuhkan keberanian, kesabaran, dan kemauan untuk bertahan.

Karena itu, Tjoet Nja’ Dhien tidak hanya penting sebagai karya sinema. Film tersebut juga menjadi bukti bahwa sejarah Aceh pernah diperjuangkan melalui layar.

Pertanyaan berikutnya menjadi semakin relevan. Mengapa langkah tersebut belum berlanjut dalam bentuk rangkaian film sejarah Aceh?

Aceh Memiliki Sejarah yang Panjang

Sejarah Aceh jauh lebih luas daripada satu tokoh dan satu periode perjuangan.

Perjalanan tersebut mencakup kerajaan, perdagangan, diplomasi, perkembangan Islam, serta kebudayaan. Hubungan Aceh dengan dunia luar juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Kontribusi Aceh terhadap lahirnya Republik Indonesia turut membentuk sejarah kawasan ini. Pergolakan politik, konflik, tsunami, dan perdamaian kemudian menambah lapisan sejarahnya.

Rangkaian pengalaman itu layak mendapat ruang dalam film. Generasi muda perlu melihat hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

Film dapat membantu menghadirkan manusia di balik sebuah peristiwa. Wajah, suara, pengalaman, dan kesaksian membuat sejarah terasa lebih dekat.

Enam Film untuk Merekam Perjalanan Aceh

Gagasan tersebut dapat berkembang menjadi serial dokumenter sejarah. Rangkaian filmnya dapat mengikuti enam fase besar.

Film 1 — Aceh Sebelum Indonesia

Film pertama dapat mengangkat Aceh sebelum Republik Indonesia berdiri.

Cerita dapat membahas kerajaan, pemerintahan, perdagangan internasional, dan hubungan diplomatik. Perkembangan Islam, ilmu pengetahuan, sastra, kebudayaan, serta identitas politik juga dapat masuk.

Kisah ini penting untuk menunjukkan panjangnya perjalanan Aceh sebelum Indonesia terbentuk.

Film 2 — Aceh dan Lahirnya Republik

Film kedua dapat merekam posisi Aceh ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Kisahnya dapat mengangkat dukungan masyarakat Aceh terhadap republik. Film juga dapat menjelaskan berbagai kontribusi Aceh pada masa awal kemerdekaan.

Pendekatan tersebut dapat memperlihatkan hubungan Aceh dan Republik Indonesia secara lebih utuh.

Film 3 — Dari Kekecewaan ke Pemberontakan

Film ketiga dapat membahas perubahan status Aceh dan persoalan hubungan pusat-daerah.

Penggabungan Aceh dengan Sumatera Utara juga menjadi bagian penting. Dinamika tersebut kemudian berkaitan dengan DI/TII dan berbagai pergolakan politik.

Film perlu menjelaskan alasan munculnya kekecewaan. Masyarakat juga perlu mendapat ruang untuk menceritakan pengalaman mereka.

Film 4 — Aceh, Konflik, dan GAM

Film keempat dapat mengangkat sejarah konflik dan lahirnya GAM.

Cerita dapat mencakup DOM, penderitaan masyarakat sipil, kekerasan, serta berbagai upaya perdamaian.

Bagian ini membutuhkan pendekatan yang sangat hati-hati. Banyak masyarakat Aceh masih menyimpan pengalaman langsung dari masa konflik.

Karena itu, film perlu menghadirkan suara korban, masyarakat sipil, mantan pejuang, pemerintah, dan peneliti.

Tujuannya bukan membuka kembali permusuhan. Film justru perlu menunjukkan harga yang dibayar masyarakat akibat konflik berkepanjangan.

Film 5 — Tsunami dan Jalan Menuju Helsinki

Film kelima dapat merekam tsunami pada 26 Desember 2004.

Bencana tersebut membawa kehancuran dan tragedi kemanusiaan yang besar. Perubahan suasana sosial-politik kemudian menjadi bagian dari perjalanan menuju perdamaian.

Film juga perlu merekam proses perundingan hingga lahirnya MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Tsunami tidak dapat ditempatkan sebagai satu-satunya penyebab perdamaian. Proses tersebut juga melibatkan perundingan, kompromi, dan keberanian untuk menghentikan konflik.

Film 6 — Aceh Setelah Damai

Film terakhir dapat melihat perjalanan Aceh setelah MoU Helsinki.

Cerita tidak harus hanya menampilkan keberhasilan. Film juga perlu bertanya tentang berbagai persoalan yang belum selesai.

Pertanyaan pentingnya menyangkut arti perdamaian bagi masyarakat biasa. Generasi yang lahir setelah konflik juga perlu mendapat ruang untuk menyampaikan pandangannya.

Baca Juga: Negara Tak Boleh Abai terhadap Kebudayaan

Film Sejarah Bukan Propaganda

Film sejarah membutuhkan satu prinsip utama. Karya tersebut harus berusaha objektif.

Film tidak perlu mengatakan bahwa Aceh selalu paling benar. Aceh juga tidak boleh ditempatkan hanya sebagai objek sejarah Indonesia.

Kekuatan film justru terletak pada keberaniannya menceritakan Aceh secara utuh. Sejarah perlu menghadirkan kejayaan, kontribusi, luka, konflik, kesalahan, dan perdamaian.

Sejarah juga tidak boleh menyederhanakan manusia menjadi pahlawan dan penjahat. Setiap peristiwa memiliki konteks dan setiap tokoh hidup pada zamannya.

Karena itu, film perlu menghadirkan banyak suara. Sejarawan, akademisi, budayawan, arsiparis, peneliti, keluarga pelaku sejarah, korban, dan masyarakat sipil dapat terlibat.

Kesaksian orang yang mengalami langsung sebuah peristiwa juga sangat penting. Mereka dapat menghadirkan pengalaman yang mungkin tidak tercatat dalam dokumen.

Film sejarah yang baik tidak bertugas membenarkan masa lalu. Film tersebut membantu manusia memahami masa lalu.

Dari Aceh untuk Indonesia dan Dunia

Film sejarah Aceh tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Aceh.

Generasi muda di berbagai daerah dapat mengenal Aceh melalui kisah yang lebih utuh. Mereka dapat melihat Aceh sebagai masyarakat dengan sejarah, kebudayaan, dan pengalaman politik yang panjang.

Film tersebut juga dapat memperkenalkan pengalaman Aceh kepada penonton internasional. Subtitle bahasa Inggris, Arab, dan bahasa lainnya dapat memperluas jangkauan cerita.

Sejarah Aceh memiliki hubungan dengan perdagangan, Islam, diplomasi, kolonialisme, peperangan, dan hubungan antarmasyarakat.

Konteks tersebut membuat sejarah Aceh memiliki ruang dalam pembicaraan sejarah Asia Tenggara dan dunia.

Membangun Arsip Visual Sejarah Aceh

Gagasan enam film sebenarnya hanya langkah awal. Aceh membutuhkan proyek kebudayaan jangka panjang berupa Arsip Visual Sejarah Aceh.

Arsip tersebut dapat merekam film dokumenter dan wawancara pelaku sejarah. Tradisi lisan, foto lama, manuskrip, arsip keluarga, benda sejarah, dan kesaksian masyarakat juga dapat masuk.

Tidak semua cerita terdapat dalam buku. Sebagian pengalaman mungkin hanya tersimpan dalam ingatan keluarga.

Seorang ayah, ibu, mantan pejuang, petani, guru, ulama, pedagang, atau anak dapat menyimpan cerita penting.

Waktu terus berjalan. Ketika seorang saksi sejarah pergi, sebagian ingatannya ikut hilang.

Baca Juga: Qanun Bahasa Aceh Sudah Ada, Kini Saatnya Memiliki Kamus Besar Bahasa Aceh

Film menawarkan kemampuan merekam suara dan wajah mereka. Kamera juga dapat menyimpan ekspresi, jeda, serta emosi ketika seseorang mengingat masa lalu.

Rekaman semacam itu dapat menjadi arsip penting bagi generasi mendatang.

Menyelamatkan Cerita yang Tidak Tercatat

Arsip visual tidak hanya berfungsi untuk merekam peristiwa besar. Media tersebut juga dapat menyimpan pengalaman masyarakat biasa.

Sebuah keluarga mungkin memiliki foto lama yang tidak tersimpan dalam arsip resmi. Seorang mantan pejuang juga mungkin menyimpan kesaksian yang belum pernah direkam.

Pengalaman seorang guru, petani, pedagang, ulama, atau anak korban dapat memberi warna berbeda. Cerita semacam itu membantu generasi berikutnya memahami dampak sejarah dari sisi manusia.

Pendekatan tersebut juga membuat film sejarah lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Penonton tidak hanya melihat tanggal dan peristiwa, tetapi juga manusia yang menjalaninya.

Sebelum Sari Sejarah Hilang

Aceh sebenarnya tidak kekurangan penulis dan peneliti sejarah. Banyak sejarawan, akademisi, dan peneliti telah bekerja mendokumentasikan masa lalu Aceh.

Langkah berikutnya mungkin perlu bergerak ke ruang visual. Aceh perlu memiliki kemampuan untuk menceritakan sejarahnya sendiri melalui film.

Tujuan tersebut bukan untuk menolak cerita yang sudah ada. Aceh juga tidak perlu menganggap seluruh cerita dari luar sebagai sesuatu yang keliru.

Aceh hanya perlu memiliki kemampuan menyusun sejarah berdasarkan sumber yang kuat. Metode yang bertanggung jawab dan sudut pandang terbuka juga menjadi bagian penting.

Kita perlu berani menceritakan kejayaan sekaligus kegagalan. Kepahlawanan, kesalahan manusia, konflik, penderitaan, dan perdamaian juga harus mendapat tempat.

Sejarah yang hanya menonjolkan kebanggaan dapat berubah menjadi mitos. Sebaliknya, sejarah yang hanya menonjolkan luka juga dapat menumbuhkan dendam.

Sejarah seharusnya menjadi pengetahuan. Pengetahuan kemudian dapat membantu generasi berikutnya mengambil pelajaran dari masa lalu.

Ada sebuah hadih maja (ungkapan bijak Aceh) yang relevan dengan persoalan tersebut.

“Ka gadeh sari bek gadeh ragam, Ka gadeh andam bek gadeh rupa.”

Ungkapan itu bermakna bahwa ketika sari atau inti mulai hilang, ragam jangan ikut lenyap. Ketika unsur kecil mulai hilang, rupa atau wajah jangan ikut menghilang.

Pesan tersebut dapat menjadi refleksi bagi upaya pelestarian sejarah Aceh. Tidak semua bagian masa lalu dapat dikembalikan.

Sebagian saksi telah tiada. Sebagian arsip mungkin hilang. Sebagian pengalaman juga mungkin hanya tersisa dalam ingatan.

Karena itu, masyarakat perlu merekam ingatan selama para pemiliknya masih hidup.

Menjaga Wajah Sejarah Aceh

Yang perlu diselamatkan bukan hanya peristiwa besar. Wajah pelaku, suara saksi, arsip keluarga, tradisi lisan, tempat bersejarah, dan pengalaman masyarakat juga penting.

Semua unsur tersebut membentuk wajah sejarah Aceh. Kehilangannya dapat membuat generasi berikutnya hanya mengenal masa lalu melalui potongan cerita.

Tujuannya bukan mengagungkan Aceh atau menyalahkan pihak tertentu. Upaya ini juga bukan untuk membuka kembali permusuhan.

Harapannya, generasi yang belum lahir tetap memiliki kesaksian tentang perjalanan masyarakat Aceh. Mereka perlu mengetahui bahwa perjalanan tersebut memuat kejayaan, pergulatan, kontribusi, kesalahan, penderitaan, kehilangan, dan perdamaian.

Sebelum sejarah Aceh hanya menjadi nama dalam buku, ingatan itu perlu direkam.

Sebelum wajah para pelaku menghilang, kamera dapat menyimpannya. Sebelum suara mereka tidak lagi terdengar, sejarah perlu direkam melalui berbagai medium.

Sebelum sari sejarah hilang dan ragam serta wajahnya ikut lenyap, Aceh perlu menceritakan sejarahnya sendiri.