Pewarta Aceh | PIDIE JAYA – BBPOM Aceh memperkuat kompetensi tenaga kefarmasian di Pidie Jaya. Upaya itu mendorong pengelolaan obat sesuai standar dan mencegah resistansi antimikroba. Kegiatan berlangsung Kamis (27/8/2026) di Aula Wisma Ayu, Meureudu.
Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Pidie Jaya menggelar kegiatan tersebut. Peserta mengikuti bimbingan teknis perizinan dan pengelolaan obat di apotek serta toko obat.
Kegiatan juga membahas bahaya Antimicrobial Resistance (AMR). Sebanyak 35 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
Peserta terdiri atas apoteker penanggung jawab apotek. Tenaga teknis kefarmasian penanggung jawab toko obat juga mengikuti kegiatan.
Pengelolaan Obat Harus Sesuai Standar
Kegiatan menggunakan Dana Alokasi Khusus Pengawasan Obat dan Makanan 2026. Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Pidie Jaya Eddy Azwar membuka kegiatan tersebut.
Eddy menekankan pentingnya pengelolaan obat pada setiap tahapan. Langkah itu menjaga mutu, khasiat, dan keamanan obat bagi masyarakat.
“Pengelolaan obat harus dilakukan sesuai standar pada setiap tahapan,” ujar Eddy Azwar.
“Kita harus memastikan obat yang sampai kepada masyarakat tetap terjamin mutu, khasiat, dan keamanannya,” lanjutnya.
Antibiotika Perlu Pengawasan Ketat
BBPOM Aceh menghadirkan Bustami sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia membahas pengadaan, penerimaan, penyimpanan, hingga penyerahan obat kepada pasien.
Pembahasan juga menyoroti penggunaan antibiotika secara tepat. Tenaga kefarmasian perlu memastikan penyerahan obat sesuai ketentuan yang berlaku.
Bustami menjelaskan bahwa pengelolaan obat tidak berhenti pada ketersediaan produk. Cara tenaga kefarmasian menyerahkan obat turut menentukan keberhasilan pengobatan.
“Obat keras, terutama antibiotika, harus diserahkan sesuai ketentuan dan berdasarkan resep dokter,” jelas Bustami.
“Penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya resistansi antimikroba,” tambahnya.
Baca Juga: Polsek Peukan Bada Telusuri Viral Tulang Belulang di Pesisir
Tenaga Kefarmasian Berperan Cegah AMR
Bustami menilai tenaga kefarmasian memiliki posisi strategis dalam pengendalian AMR. Mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam pelayanan obat.
Karena itu, tenaga kefarmasian dapat memberikan edukasi kepada pasien. Edukasi tersebut mencakup penggunaan antibiotika sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
“Tenaga kefarmasian memiliki posisi yang sangat strategis dalam pengendalian AMR,” kata Bustami.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan antibiotika sembarangan. Penggunaan obat harus mengikuti petunjuk tenaga kesehatan.
BBPOM Aceh terus membangun sinergi dengan pemerintah daerah melalui kegiatan tersebut. Sinergi itu bertujuan meningkatkan kompetensi dan kepatuhan tenaga kefarmasian.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan secara konsisten. Dengan begitu, pelayanan obat di apotek dan toko obat semakin aman dan sesuai ketentuan.











