Pewarta Aceh|Aceh, — Kemarau panjang yang melanda sejak akhir tahun 2025 kini kian mengkhawatirkan para petani di sejumlah wilayah Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Pidie, Aceh. Kondisi cuaca ekstrem yang tak kunjung membaik menyebabkan lahan pertanian terancam kekeringan dan berpotensi menimbulkan gagal panen secara meluas.
Ironisnya, bencana kekeringan ini datang tak lama setelah musibah banjir besar yang menerjang sebagian wilayah Aceh pada November 2025 lalu. Pasca banjir tersebut, hujan dengan intensitas normal nyaris tidak lagi turun di wilayah Pidie Jaya dan Pidie, sehingga siklus pertanian masyarakat terganggu secara signifikan.
Akibat kondisi tersebut, ribuan hektare sawah kini berada dalam kondisi kritis. Tanaman padi yang seharusnya memasuki masa pertumbuhan optimal justru terancam mengering karena kekurangan pasokan air. Para petani pun terancam mengalami kerugian besar akibat gagal panen yang sulit dihindari.
Hal ini diungkapkan oleh Nasrudin, seorang petani yang memiliki lahan persawahan di Gampong Tjot Glumpang, Kabupaten Pidie. Dalam wawancara bersama Pewarta Aceh, ia menyampaikan bahwa lahan sawah miliknya sudah tidak lagi mendapatkan pasokan air yang memadai dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Nasrudin, berkurangnya debit air Sungai Tiro yang selama ini menjadi sumber utama irigasi sawah warga menjadi penyebab utama persoalan tersebut. Selain debit air yang semakin menipis, para petani juga harus berbagi aliran air dengan sawah milik petani lain yang sama-sama membutuhkan, sehingga distribusi air menjadi tidak maksimal.
“Kami sangat resah. Sudah hampir dua bulan tidak ada hujan yang normal, sawah kami mulai kering,” ujar Nasrudin. Ia menambahkan bahwa sistem pengairan bergiliran yang diterapkan saat ini belum mampu mencukupi kebutuhan air tanaman padi yang hampir memasuki masa panen.
“Padi kami sebenarnya sudah mendekati panen. Tapi kalau sampai bulan depan tidak ada hujan, sudah dipastikan tanaman ini akan mati atau hasil panennya tidak maksimal,” ungkapnya. Ia bahkan terpaksa menggunakan mesin genset untuk mengalirkan air dari sumur bor sebagai alternatif terakhir demi menyelamatkan tanamannya.
Pria yang akrab disapa Din itu berharap pemerintah daerah bersama masyarakat setempat dapat segera mencari solusi konkret untuk mengatasi dampak musim kemarau yang berkepanjangan ini. Ia menilai, tanpa langkah cepat dan terkoordinasi, krisis air di sektor pertanian dikhawatirkan akan semakin meluas dan berdampak serius terhadap ketahanan pangan masyarakat setempat.














