PewartaAceh | WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap lambatnya proses negosiasi dengan Iran. Meski demikian, Trump belum berencana mengakhiri gencatan senjata maupun memerintahkan serangan udara baru terhadap Teheran.
“Mereka ingin mencapai kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan itu,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (1/5/2026). Ia mengonfirmasi adanya pembicaraan terbaru dengan pihak Iran, namun enggan memberikan rincian lebih lanjut mengenai hasil pertemuan tersebut.
Dilema Kemanusiaan dan Blokade Hormuz
Terkait opsi militer, Trump menyatakan lebih memilih untuk menghindari dimulainya kembali permusuhan. Perang yang meletus sejak akhir Februari lalu akibat serangan AS dan Israel telah merenggut ribuan nyawa, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik ini juga memicu krisis energi global setelah Iran memblokade Selat Hormuz yang vital.
Saat berbicara di Florida, Trump bahkan memberi sinyal untuk membatalkan proses diplomasi sepenuhnya jika tidak ada perubahan signifikan. “Mungkin lebih baik kita tidak membuat kesepakatan sama sekali. Kita tidak bisa membiarkan situasi ini berlanjut terlalu lama,” tegasnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons bahwa Teheran siap melanjutkan upaya diplomatik. Namun, ia mensyaratkan AS harus mengubah pendekatan dan menghindari tuntutan yang berlebihan serta retorika ancaman. Ia juga memastikan militer Iran tetap dalam kondisi waspada tinggi.
Dampak Ekonomi Global
Inti kebuntuan ini terletak pada Selat Hormuz, jalur yang melayani seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Iran menuntut AS mengakhiri blokade laut terhadap pelabuhan mereka sebelum membuka kembali jalur air tersebut. Sebaliknya, Gedung Putih menganggap blokade tersebut efektif menekan ekonomi Iran dan memaksa mereka untuk memberikan konsesi.
Akibat konflik ini, pasar energi dunia mengalami guncangan hebat:
-
Minyak Brent: Ditutup pada level US$108 per barel, naik 2,7% dalam sepekan.
-
Harga Bensin AS: Melonjak jauh di atas US$4 per galon, memicu tekanan inflasi di dalam negeri.
Bantahan Analis terhadap Klaim Trump
Trump mengklaim bahwa harga energi akan turun cepat begitu perang usai. Ia juga menuding perpecahan internal di kepemimpinan Iran sebagai penyebab macetnya negosiasi. Namun, para analis Timur Tengah membantah anggapan tersebut.
Analis Eurasia Group, Cliff Kupchan dan Gregory Brew, menilai bahwa kepemimpinan Iran justru sangat solid dalam mendukung sikap keras terhadap Washington. Menurut mereka, negosiasi berjalan lambat karena Teheran sedang mencari pengaruh lebih besar serta penawaran yang lebih menguntungkan dari AS, bukan karena adanya perselisihan taktik di internal mereka.




















