PewartaAceh | BIREUEN – Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, S.E., yang akrab disapa Dek Fadh, melakukan kunjungan silaturrahmi kepada ulama kharismatik Aceh, Tgk. H. Muhammad Ali bin Abdul Muthaleb atau yang dikenal sebagai Abu Paya Pasi. Pertemuan tersebut berlangsung di Masjid Al-Falah, Gampong Namploh, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Jumat (1/5).
Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda strategis Pemerintah Aceh untuk mempererat hubungan antara umara (pemerintah) dan ulama dalam mengawal pembangunan daerah yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Setibanya di lokasi, Wakil Gubernur Aceh turut melaksanakan ibadah Shalat Jumat berjamaah bersama Abu Paya Pasi dan masyarakat setempat. Kehadiran Dek Fadh disambut hangat oleh jamaah dan tokoh masyarakat Gampong Namploh.
Ulama sebagai Pilar Pembangunan
Dalam dialog yang berlangsung penuh kekeluargaan tersebut, kedua tokoh membahas peran strategis ulama dalam menjaga harmoni sosial serta memperkuat fondasi keagamaan di tengah dinamika masyarakat Aceh modern.
Wakil Gubernur Aceh menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah dan ulama adalah pilar utama dalam mewujudkan Aceh yang damai, religius, dan berkelanjutan. Menurutnya, ulama bukan sekadar mitra, melainkan pembimbing bagi pemerintah dalam menjalankan amanah publik.
“Peran ulama sangat strategis dalam membimbing masyarakat, sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menjaga nilai-nilai keislaman serta memperkuat persatuan di tengah kehidupan sosial,” ujar Fadhlullah.
Komitmen Ruang Kolaborasi
Lebih lanjut, Dek Fadh menyatakan komitmen Pemerintah Aceh untuk terus membuka ruang komunikasi yang luas dengan para ulama di seluruh penjuru Aceh. Kolaborasi ini dinilai sangat penting agar setiap kebijakan pembangunan selaras dengan norma agama dan adat istiadat Aceh.
“Pemerintah Aceh akan terus membuka ruang kolaborasi dengan para ulama dalam setiap aspek pembangunan daerah guna mewujudkan Aceh yang lebih maju dan sejahtera,” tambahnya.
Silaturrahmi ini diharapkan dapat semakin mengokohkan hubungan emosional dan struktural antara ulama dan umara di Aceh, sehingga tercipta stabilitas daerah yang kuat melalui pendekatan spiritual dan administratif yang harmonis.




















