PewartaAceh | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mencatat perkembangan positif dalam pengendalian ekonomi daerah. Pada April 2026, inflasi Aceh turun signifikan menjadi 0,23 persen secara bulanan (month-to-month) dan 3,88 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini menunjukkan perbaikan besar dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 5,31 persen.
Sehubungan dengan capaian tersebut, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem, menyatakan bahwa tren penurunan ini merupakan hasil kerja keras kolektif. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan pemangku kepentingan berhasil menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika pasar.
“Alhamdulillah, inflasi Aceh kini semakin terkendali. Ini merupakan buah dari langkah konkret yang terus kami lakukan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),” ujar Mualem, Selasa (5/5/2026).
Komoditas Pemicu dan Kondisi Wilayah
Meskipun secara umum menurun, sejumlah komoditas masih memberikan andil terhadap inflasi tahunan, seperti beras, emas perhiasan, dan daging ayam ras. Sementara itu, kenaikan harga ikan dan biaya angkutan udara menjadi pemicu utama inflasi secara bulanan.
Dari sisi kewilayahan, Aceh Tengah mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,93 persen akibat gangguan distribusi pascabencana banjir. Sebaliknya, Meulaboh berhasil mencatatkan inflasi terendah di angka 3,14 persen.
Strategi Pengendalian Jelang Idul Adha
Untuk mempertahankan tren positif ini, Pemerintah Aceh melalui TPID terus menggencarkan program strategis seperti Gerakan Pangan Murah dan Operasi Pasar. Intervensi ini menyasar wilayah terdampak bencana serta kota-kota Indeks Harga Konsumen (IHK).
Menjelang Idul Adha pada Mei 2026, Mualem telah menginstruksikan langkah lanjutan yang lebih masif. Pemerintah Aceh menyiapkan penyaluran 284 ton gula konsumsi dan 36 ton minyak goreng curah melalui Operasi Pasar di lima kota utama. Selain itu, Dinas Pertanian rutin menggelar Pasar Tani di Banda Aceh sebagai alternatif pangan murah bagi warga.
Sinergi Lintas Sektor
Lebih lanjut, Mualem menyampaikan apresiasi kepada jajaran TNI dan Polri yang turut mengawal kelancaran distribusi logistik di lapangan. Kehadiran aparat memastikan stok pangan tetap tersedia dan situasi keamanan tetap kondusif.
“Sinergi lintas sektor sangat penting, terutama dukungan dari Bank Indonesia, BPS, dan Satgas Pangan. Kolaborasi ini menyediakan sistem peringatan dini guna memantau dinamika harga secara real-time,” jelas Mualem.
Pada akhirnya, Pemerintah Aceh berkomitmen untuk terus menjaga kelancaran distribusi pangan lintas wilayah. Dengan keterjangkauan harga yang terjaga, pemerintah optimistis stabilitas ekonomi daerah akan tetap kokoh menghadapi hari besar keagamaan mendatang.
















