Scroll untuk baca artikel
Ekonomi & BisnisNasional

Menkeu Ungkap Penyebab IHSG Anjlok dan Rupiah Melemah

14
×

Menkeu Ungkap Penyebab IHSG Anjlok dan Rupiah Melemah

Sebarkan artikel ini
Menkeu Purbaya menjelaskan penyebab pelemahan IHSG dan rupiah sepanjang 2026.

PewartaAceh | JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap penyebab pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026. Ia menilai sentimen negatif pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah menjadi faktor utama tekanan di pasar keuangan.

Purbaya menyampaikan hal itu dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat, 5 Juni 2026. Menurutnya, sebagian pelaku pasar salah menafsirkan data defisit APBN pada awal tahun.

 PT Midaya Network Group Distributor Air Minum Kemasan Resmi

Data Maret 2026 menunjukkan defisit APBN mencapai 0,9 persen. Angka itu kemudian memunculkan spekulasi bahwa defisit tahunan berpotensi melewati batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Saya juga agak bingung sebenarnya apa yang terjadi,” kata Purbaya.

Ia menilai sebagian analis langsung mengalikan angka defisit bulanan tersebut untuk memproyeksikan kondisi tahunan. Persepsi itu kemudian berkembang menjadi sentimen negatif di pasar.

IHSG dan Rupiah Tertekan

Purbaya menjelaskan rumor mengenai fiskal pemerintah ikut menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham. Menurutnya, sejumlah program pemerintah juga ikut disorot pelaku pasar.

Ia menyinggung Badan Gizi Nasional (BGN) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program itu dinilai sebagian pihak dapat membebani anggaran negara.

“Fiskalnya jadi berantakan. Itu yang fit in ke pelemahan nilai tukar dan saham,” ujar Purbaya.

Data RTI menunjukkan IHSG turun 245,01 poin atau 4,20 persen pada penutupan perdagangan Jumat. Dalam sebulan terakhir, IHSG tercatat melemah 19,58 persen.

Sepanjang 2026, indeks pasar saham Indonesia bahkan sudah turun 35,30 persen. Kondisi itu membuat kekhawatiran investor semakin meningkat.

Pemerintah Pastikan Fiskal Tetap Aman

Purbaya mengatakan pasar juga khawatir lembaga pemeringkat internasional akan menurunkan rating Indonesia. Namun, ia mengaku memperoleh pandangan berbeda saat berdiskusi dengan Standard & Poor’s (S&P).

Menurutnya, S&P justru melihat fondasi fiskal Indonesia masih cukup baik. Lembaga itu hanya mencermati ketidakpastian pasar akibat pelemahan rupiah.

“Sudah bagus, sudah ini sudah bagus,” kata Purbaya menirukan penilaian S&P.

Ia menegaskan pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal. Presiden Prabowo Subianto juga disebut memberi perhatian besar terhadap batas defisit anggaran.

Purbaya menyebut Presiden Prabowo ingin menjaga defisit APBN tetap berada di bawah 3 persen PDB. Bahkan, pemerintah menargetkan defisit tahun depan berada di kisaran 1,8 persen.

Pemerintah Perbaiki Sentimen Pasar

Purbaya menilai ada miskonsepsi di kalangan pasar mengenai kebijakan fiskal pemerintah. Karena itu, pemerintah akan memperbaiki komunikasi publik terkait kondisi ekonomi nasional.

Ia memastikan pemerintah tetap fleksibel dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pemerintah juga siap menyesuaikan kebijakan jika muncul tekanan baru di pasar.

“Ada sentimen negatif di pasar yang harus kita perbaiki,” tegas Purbaya.

Ia menambahkan fondasi ekonomi Indonesia masih kuat. Pemerintah juga memastikan kebijakan fiskal tetap berjalan hati-hati tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional.