PewartaAceh | PIDIE – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pidie berkomitmen memperkuat identitas daerah melalui pelestarian Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan intensif bertajuk “Pengembangan Warisan Budaya Tak Benda” yang memfokuskan pada dua ikon budaya lokal, yakni Kupiah Tungkop dan Kupiah Riman.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 22–23 April 2026, di Aula Dinas Kabupaten Pidie ini melibatkan sedikitnya 30 guru sebagai peserta. Para pendidik ini dipersiapkan menjadi motor penggerak untuk mengenalkan kembali warisan leluhur kepada generasi muda di lingkungan sekolah masing-masing.
Dorong Masuk Kurikulum Sekolah
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Pidie, Mahdiana, menekankan pentingnya regenerasi agar nilai filosofis dan keterampilan pembuatan kedua kupiah tersebut tidak punah. Ia mendorong agar materi kebudayaan ini diintegrasikan ke dalam aktivitas belajar mengajar.
“Kupiah ini telah ditetapkan sebagai WBTB. Kami berharap para guru dapat mentransfer ilmu ini ke sekolah, bahkan jika memungkinkan, dimasukkan ke dalam kurikulum lokal. Tujuannya agar siswa merasa bangga dan mencintai budaya mereka sendiri,” ujar Mahdiana saat membuka acara.
Kupiah sebagai Simbol Persatuan
Dalam sesi sejarah, budayawan Ustaz Junaidi Ahmad memaparkan bahwa Kupiah Tungkop memiliki peran vital dalam lini masa sejarah Aceh. Menurutnya, penutup kepala ini bukan sekadar pelengkap busana, melainkan simbol kedaulatan dan persatuan antarwilayah.
“Raja Aceh terakhir dan para panglima perang dari berbagai wilayah bersatu mengenakan pakaian khas Pidie, termasuk Kupiah Tungkop. Produk ini murni lahir dari tangan kreatif masyarakat Pidie dan merupakan identitas yang harus kita jaga,” jelas Junaidi.

Workshop Kreatif dan Peluang Global
Selain mendalami sejarah, para peserta menjalani workshop menjahit yang dipandu oleh Fitri, pemilik Fitri Souvenir Aceh Pidie. Fitri, yang sukses membawa kerajinan kasab dan motif Pidie ke pasar internasional, berbagi teknik desain inovatif tanpa meninggalkan pakem asli.
Gerai miliknya yang berlokasi di Jalan Garot kini tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga pusat edukasi bagi tamu domestik maupun mancanegara. “Banyak tamu luar negeri datang ke gerai kami. Mereka bukan sekadar membeli, melainkan belajar desain dan berkolaborasi menciptakan produk inovatif dari motif asli Pidie,” ungkap Fitri.
Melalui sinergi antara sejarah dan praktik kreatif ini, Disdikbud Pidie berharap para guru mampu menyalakan semangat kreativitas serta kebanggaan budaya di sanubari para pelajar di seluruh Kabupaten Pidie. [Riazul Iqbal]




















