PewartaAceh | BANDA ACEH – Publik kembali menyaksikan rekaman memilukan dari sebuah lembaga penitipan anak (daycare) di Banda Aceh. Dalam video tersebut, seorang oknum pegawai tega memukul dan menjewer balita yang seharusnya ia jaga dengan penuh kasih sayang. Kejadian ini menjadi viral karena memiliki pola serupa dengan kasus di Pulau Jawa, di mana pengasuh mengikat anak-anak kecil secara tidak manusiawi.
Oleh karena itu, muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat: Mengapa tragedi ini terus berulang? Apakah standar pelayanan kita terlalu rendah, ataukah para pekerja mengalami tekanan beban kerja dan upah yang minim?
Trauma Masa Lalu dan Distorsi Kasih Sayang
Selain faktor ekonomi, pakar perilaku menyoroti adanya pengaruh pola asuh masa lalu pada diri pelaku. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan—seperti sering dipukul atau dimarahi—cenderung menormalisasi tindakan tersebut saat dewasa. Mereka secara tidak sadar menganggap kekerasan adalah cara yang sah untuk mendisiplinkan anak.
Padahal, Tuhan menitipkan rahim kepada perempuan sebagai simbol kasih sayang yang mendalam. Laki-laki mungkin tidak akan pernah bisa merasakan perjuangan mengandung dan menjaga bayi dengan sensitivitas yang sama. Namun sayangnya, naluri luhur ini sering kali tumpul akibat trauma yang tidak terobati.
Budaya Permisif di Lingkungan Sekolah
Selanjutnya, tantangan besar juga datang dari sikap permisif orang tua. Kami pernah menemui kasus di mana seorang ayah justru mengizinkan guru untuk memukul anaknya jika bersalah. Meskipun demikian, sekolah kami mengambil langkah tegas dengan memecat oknum guru yang menampar siswa. Kami percaya bahwa institusi pendidikan harus menjadi zona aman, bukan tempat penyemaian trauma.
Di sisi lain, praktik perundungan (bullying) baik secara verbal maupun fisik masih marak terjadi. Jika sekolah tidak segera memutus rantai ini, korban perundungan hari ini berisiko besar menjadi pelaku kekerasan di masa depan. Oleh sebab itu, sanksi yang tegas dan kampanye anti-kekerasan yang masif menjadi harga mati bagi setiap instansi pendidikan.
Dialog: Solusi Utama bagi Orang Tua
Sebagai langkah konkret, orang tua memegang peran paling vital dalam tumbuh kembang anak. Orang tua sebaiknya tidak hanya sekadar “menitipkan” anak dan mencukupi kebutuhan materi atau uang jajan semata.
Sebaliknya, bangunlah dialog rutin setiap hari. Tanyakan apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan. Komunikasi dua arah ini akan membangun benteng emosional yang kuat, sehingga anak merasa cukup dicintai dan berani bersuara jika mendapatkan perlakuan buruk di luar rumah.
[Riazul Iqbal]




















