PewartaAceh | Syiar – Dalam ajaran Islam, kehidupan adalah representasi dari pergerakan. Seseorang dianggap hidup bukan sekadar karena ia bernapas, melainkan karena ia bergerak, berbuat, dan memberikan manfaat bagi sesama. Sebaliknya, sifat malas sering kali disebut sebagai “penyakit” yang mematikan hati dan produktivitas sebelum kematian fisik menjemput.
Allah SWT secara tegas mengingatkan hamba-Nya untuk menjauhi kemalasan. Salah satu nasihat yang populer dalam Mahfuzhat menyebutkan:
اِجْهَدْ وَلَا تَكْسَلْ وَلَا تَكُ غَافِلًا # فَنَدَامَةُ العُقْبَى لِمَنْ يَتَكاَسَلُ
“Bersungguh-sungguhlah, jangan malas, dan jangan lalai; karena penyesalan mendalam adalah milik mereka yang bermalas-malasan.”
Fenomena “Mayat Hidup” di Era Digital
Di era modern, sifat malas menemukan tempat persemaian yang nyaman melalui fasilitas teknologi. Penggunaan media sosial yang berlebihan, kecanduan game, hingga tradisi berdebat tanpa solusi nyata adalah bentuk-bentuk kemalasan yang terpelihara.
Kondisi ini menciptakan “mayat hidup”—sosok yang secara fisik bernapas, namun hatinya mati karena kehilangan semangat juang. Mereka cenderung menghindari risiko, lari dari tanggung jawab pendidikan, keluarga, hingga kewajiban ibadah yang dalam Al-Qur’an (QS. An-Nisa: 142) disebut sebagai sifat orang munafik saat hendak mendirikan shalat (kusala).
Meneladani Gerak Dakwah Rasulullah SAW
Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik dalam hal etos kerja. Beliau tidak hanya memberikan arahan di atas mimbar, tetapi turun langsung menjumpai umat, berdagang, dan memimpin strategi kehidupan. Rasulullah SAW lebih banyak bertindak daripada sekadar bicara, membuktikan bahwa kehormatan seseorang terletak pada karya nyata dan tanggung jawabnya.
Bila hidup hanya sekadar makan dan tidur tanpa tujuan, maka apa bedanya manusia dengan hewan? Sejatinya, manusia memiliki nilai lebih karena kemampuannya memberikan warna dan manfaat bagi lingkungan sekitar melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh.
6 Dampak Buruk Kemalasan yang Merugikan Diri Sendiri
Membiarkan sifat malas bersarang dalam diri akan membawa dampak sistemik bagi kehidupan, di antaranya:
-
Cita-cita Menjadi Khayalan Kosong: Tanpa gerak, mimpi hanya akan menjadi angan yang membunuh waktu. Padahal, Allah mencintai hamba yang bekerja dan terampil (HR. Ahmad).
-
Penurunan Kualitas Kesehatan: Kurangnya aktivitas fisik akibat malas bergerak berisiko merusak amanah fisik yang diberikan Allah SWT.
-
Rentan Cemas dan Stres: Penundaan pekerjaan (prokrastinasi) menyebabkan tumpukan beban pikiran yang memicu stres berkepanjangan.
-
Kehilangan Peluang Emas: Kesempatan jarang datang dua kali. Sifat malas menutup pintu pengembangan karier dan kompetensi diri.
-
Hidup yang Stagnan (Stuck): Tanpa usaha untuk belajar hal baru, seseorang akan jalan di tempat dan tertinggal oleh zaman.
-
Memudarnya Semangat Hidup: Semakin lama bermalas-malasan, semakin sulit bagi seseorang untuk bangkit dan menemukan makna kehadirannya di dunia.
Jihad dalam Mencari Kehidupan
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 69, mereka yang bersungguh-sungguh (berjihad) di jalan Allah akan ditunjukkan jalan-jalan keberhasilan. Jihad yang dimaksud di sini mencakup perjuangan mencari nafkah yang halal untuk keluarga, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta membela agama dan bangsa melalui perbuatan nyata.
Menutup setiap ucapan dengan perbuatan adalah tanda kemuliaan. Jadikanlah setiap lelah kita sebagai nilai ibadah, agar saat kematian menjemput, kita meninggalkan catatan kehidupan yang bermakna dan bermanfaat.
Penulis: Ust Iwan Setiawan
Editor: PewartaAceh




















