PewartaAceh | JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat 23 kasus hantavirus di Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Meskipun publik mengaitkannya dengan wabah kapal pesiar MV Hondius, otoritas memastikan bahwa jenis di Indonesia adalah Seoul Virus. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengenali risiko penularan yang bersumber dari kontak langsung dengan tikus.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa aktivitas hobi dan wisata memiliki risiko tinggi. Sebagai contoh, mendaki gunung dan berkemah sering kali mendekatkan manusia dengan habitat tikus liar. Selain itu, seseorang dapat menghirup aerosol dari debu yang telah terkontaminasi kotoran tikus di area minim sanitasi.
Selanjutnya, Kemenkes juga menyoroti risiko pada profesi tertentu. Petugas kebersihan, petani, dan pekerja konstruksi memiliki kerentanan lebih besar terhadap infeksi ini. Hal ini terjadi karena lingkungan kerja mereka sering bersinggungan dengan sarang tikus atau saluran pembuangan yang kotor. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri menjadi sangat penting bagi kelompok pekerja tersebut.
Mengenai data statistik, Aji mengungkapkan bahwa 20 pasien telah sembuh, sementara tiga orang lainnya meninggal dunia. Namun demikian, tingkat kematian sebesar 13 persen ini biasanya melibatkan kondisi penyakit penyerta seperti kanker hati. Hingga saat ini, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan temuan kasus terbanyak, masing-masing melaporkan enam pasien.
Meskipun hantavirus jenis Andes di Amerika Selatan dapat menular antarmanusia, Kemenkes menegaskan fenomena tersebut belum terjadi di Indonesia. Dengan demikian, risiko importasi kasus penularan antarmanusia masih tergolong rendah. Meski begitu, pemerintah tetap mengimbau warga untuk menjaga kebersihan lingkungan guna memutus rantai penyebaran virus dari hewan ke manusia.




















