PewartaAceh | SAMALANGA – Setahun telah berlalu sejak banjir bandang melanda wilayah Aceh, namun duka mendalam masih dirasakan oleh warga Desa Cot Meurak Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Hingga saat ini, masyarakat setempat terpaksa melaksanakan ibadah salat di atas puing-puing Masjid Jami’ Al Mabrur yang hancur akibat longsor pascabencana tersebut.
Kondisi rumah ibadah yang dahulu menjadi pusat kegiatan religi warga kini sangat memprihatinkan. Sebagian besar struktur bangunan utama runtuh setelah fondasi tanah tergerus arus sungai yang meluap. Meski hanya beralaskan terpal di sela-sela dinding beton yang retak, antusiasme warga untuk menunaikan salat berjamaah tidak surut.

“Masjid ini bukan sekadar bangunan fisik bagi kami, melainkan simbol kebersamaan. Walaupun kondisinya darurat, kami tetap berupaya menjaga rutinitas ibadah di sini,” ujar salah seorang warga setempat saat ditemui di lokasi, Sabtu (21/3/2026).
Aksi solidaritas menjadi kekuatan utama warga dalam menghadapi masa sulit ini. Secara swadaya, mereka bergotong royong membersihkan sisa material bangunan dan mengatur area salat sementara agar tetap layak digunakan. Bantuan logistik dan tenaga dari desa tetangga pun terus mengalir sebagai bentuk simpati atas musibah yang menimpa ikon desa tersebut.

Kendati demikian, pemulihan jangka panjang memerlukan anggaran yang besar. Kerusakan struktural yang masif membuat bangunan lama tidak mungkin direnovasi tanpa pembangunan ulang total. Warga kini sangat mengharapkan atensi dari Pemerintah Kabupaten Bireuen maupun para dermawan untuk membantu proses rekonstruksi.
Harapan besar digantungkan agar Masjid Jami’ Al Mabrur dapat kembali berdiri dengan struktur yang lebih kokoh dan aman dari ancaman bencana di masa depan. Bagi warga Cot Meurak Blang, kehadiran kembali masjid yang utuh adalah kunci utama untuk memulihkan aspek spiritual dan sosial kehidupan mereka pascabencana. [Riazul Iqbal]

































