Kekhawatiran Stok BBM 20 Hari Picu Reaksi Netizen, Warganet Curhat Antrean Panjang di SPBU

PewartaAceh | Banda Aceh, – Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang disebut hanya cukup sekitar 20 hari memicu beragam reaksi di masyarakat, terutama di media sosial.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi rantai pasok energi dunia. Kekhawatiran ini kemudian berkembang menjadi perbincangan luas di kalangan warganet, termasuk keluhan terkait antrean di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Salah satu curahan perhatian publik muncul melalui Instastory seorang netizen dengan akun fitrasyahriza,Warga Banda Aceh yang menuliskan pesan terbuka kepada Menteri Bahlil. Dalam unggahan tersebut, ia menggambarkan kekhawatirannya menghadapi situasi kelangkaan BBM yang berpotensi terjadi.

“Besok pagi saya kerja mau bagaimana, bukan karena takut haus atau lapar karena berpuasa Pak, tapi takut tiba-tiba di lampu merah saya harus berhenti karena habis BBM,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

Ia juga mengaku belum memiliki kendaraan listrik maupun alternatif energi lain, sehingga masih sepenuhnya bergantung pada BBM. Kondisi antrean panjang di SPBU disebutnya semakin menambah kecemasan masyarakat.

Dalam tulisannya, netizen tersebut menggambarkan fenomena yang ia lihat langsung di SPBU di kotanya, di mana antrean kendaraan mengular hingga berjam-jam. Bahkan menurutnya, ada pengendara yang rela mengantre hingga tiga jam meski hanya mengisi BBM dalam jumlah kecil.

“Coba sekali-sekali Bapak visit ke SPBU, ada motor yang ngantri 3 jam tapi ngisinya cuma 10 ribu,” tulisnya lagi.

Ia juga menyebut ada warga lanjut usia yang mengantre sejak sebelum berbuka puasa hingga selepas salat tarawih, dengan alasan sekadar berjaga-jaga jika terjadi kelangkaan.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut muncul karena masyarakat menafsirkan pernyataan tentang stok BBM 20 hari sebagai potensi krisis pasokan. Ia pun berharap para pejabat lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan di tengah kondisi yang sensitif.

“Next Bapak pikir dulu untuk berstatement di hadapan rakyat,” tulisnya menutup pesan tersebut.

Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan mendapat berbagai tanggapan dari warganet lainnya. Sebagian mengaku memiliki kekhawatiran yang sama, sementara yang lain menilai fenomena antrean lebih disebabkan oleh panic buying setelah pernyataan tersebut ramai diperbincangkan.

Di sisi lain, pemerintah sebelumnya menegaskan bahwa stok energi nasional masih dalam kondisi aman dan distribusi BBM terus dijaga agar tetap stabil di seluruh wilayah Indonesia.

Meski demikian, dinamika geopolitik global yang mempengaruhi pasokan energi tetap menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi sebagian kebutuhan dalam negeri.

Fenomena reaksi warganet ini menunjukkan bahwa komunikasi publik terkait energi dan logistik strategis memiliki dampak psikologis yang besar terhadap masyarakat, khususnya di tengah situasi global yang tidak menentu.